Rabu, 10 Juni 2015

Cinnamon Latte di Peacock Coffee Semarang



Cinnamon Latte di Peacock Coffee Semarang


Malam sudah larut jelang pagi saat mata saya terheran dan geli melihat di TVRI dalam sebuah acara musik  lawas menampilkan seorang Pria gendut bernyanyi dan bergoyang ala Elvis Presley, dia menghentak dengan lagu berjudul “Thats Allright Mama”, waduh, percayalah, dengan godek imitasi dan tubuh yang jumbo itu, saya malah lupa kalo dia Elvis, imajinasiku mengatakan dia lebih mirip Darto Helm .

                Lupakan mas Elvis gendut kita itu, mari saya ajak sedikit melancong ke sebuah tempat yang enak untuk hangout di Semarang yaitu di Peacock Coffee yang terletak di Jalan S Parman, tepatnya di sebelah atas RS Kariyadi, jika dari arah selatan berarti di kiri jalan dari arah RS berarti kanan jalan, mudah dikeenali karena ada tulisan mencolok Peacock Coffee.

                Fisik bangunannya sederhana, di cat putih hampir total, begitu turun dari kendaraan dan masuk kedalamnya, ada dua ruangan yang satu ber AC dan satu ruang lagi untuk Smoking area, diluar juga ada sebuah ruang terbuka agak luas dengan deretan kursi warna hijau dari Seng bulat mengingatkan kita pada kursi di balai desa atau di Posyandu. Unik.

                Seorang perempuan dengan Shirt warna hitam yang sepertinya adalah seragam menyapa kami dan menawarkan beberapa menu yang tak seperti lazimnya Cafe ada  menu dalam bentuk kertas dilaminating, di Peacock ini kita dihadapkan pada daftar menu superbesar tertulis di tembok  yang mau tak mau harus dibaca di belakang sang Waitress, wow, jadi ingat pelajaran SD Ini Budi.

                Akhirnya saya memilih Cinnamon Latte atau Kopi susu dengan taburan kayu manis bubuk di atasnya dan Choco Waffle plus satu Skup besar es krim Vanila diatasnya, teman saya cukup Cappucino, entah kenapa.

                Duduk di kursi kayu, menikmati aroma kopi, susu dan harumnya kayu manis menimbulkan sensasi tersendiri,apalagi jika ditambah sigaret , sembari mendengarkan alunan lagu dari Lionel Richie yang bertajuk Truely, hmmmhh, sangat menenangkan setelah seharian mondar mandir mencari sebuah kampus untuk saya melanjutkan pendidikan, melelahkan, tapi terobati disini,  diseberang sana saya lihat beberapa anak muda sibuk berdiskusi, membuka laptop dan bercanda, rata rata mereka memesan beraneka ragam menu yang ada seperti Vannila Latte, Espresso dan sebagainya.

                Peacock Coffee tergolong legendaris di Semarang sejak lama saya ingin mampir kesini namun baru  semalam tercapai impian itu, cocok untuk para pelancong, Mahasiswa, atau pekerja kantoran karena suasananya yang intim dan tenang , pelayannya ramah, tempatnya luas untuk ukuran Cafe di Suburban, tak ada alkohol, aman.

                Konon menurut mbak penjaganya, sebentar lagi Peacock akan pindah ke Gombel, untuk ekspansi atau perluasan pemasaran, tentu dengan kualitas bagus seperti mereka, dimanapun buka usaha semoga akan sukses, jika ke Semarang, sempatkan mampir Peacock Coffee, dan nikmati suasananya. Have a nice day.

Minggu, 07 Juni 2015

Meencari Kerang Hijau Di Pantai Sikucing Weleri



Mencari Kerang Hijau di Pantai Sikucing Weleri.



                Pagi itu Minggu 7 Juni 2015 setelah sekian lama tak pernah menyambangi pantai Sikucing, saya kembali berkesempatan untuk melihat keelokan pantai yang secara administratif terletak di wilayah Rowosari namun lebih terkenal dengan sebutan pantai Sikucing Weleri.


                Pantai ini terletak di desa Tawang membujur ke barat dan timur sepanjang puluhan kilometer menyambung dengan sejumlah pantai tenar lainnya di Kabupaten Kendal Jawa Tengah, anda bisa sampai disana jika dari arah barat dari Weleri di tikungan pertigaan  terminal lama belok kiri , jika dari timur berarti ke kanan, bisa juga lewat Ungup Ungup ke kiri, jaraknya sama saja.

                Sesampai di Pantai Sikucing, saya agak heran ternyata ada sebuah spot baru yang dikelola Dinas Budaya dan Pariwisata letaknya tak jauh dari pantai Cahaya, bedanya jika pantai cahaya mengambil rute kekanan dari pertigaaan , Pantai Sikucing yang ke kiri, ada tulisan Disbudpar besar di loketnya.

                Masuk ke pantai ini sangat murah untuk parkir mobil hanya Lima Ribu Rupiah dan saya beserta anak anak hanya diminta membayar sekitar Dua Ribu Rupiah per orang.

                Keindahan pantainya benar alami dan udaranya masih segar, jauh dari hiruk pikuk perkotaan membuat  suasana lautannya bisa dinikmati dengan tenang, saya datang sekitar jam 7 pagi sudah banyak pengunjung lain, memang di daerah Kendal dan sekitarnya masih terdapat kepercayaan bahwa jika anak agak flu atau demam bawa ke laut dan mandikan niscaya sehat kembali, tak heran di pantai Sikucing pagi itu saya melihat banyak orang tua yang membasuh sekujur tubuh anaknya dengan air laut  dan kemudian membiarkan sang buah hatinya mandi  atau bahasa Kendalnya “Ciblon” dan berlarian diatas pasir, derai tawa dan celotehan anak anak berbaur dengan debur ombak dan angin lautan.

                Pandangan saya tertumbuk pada dua nak muda lokal yang membawa karung besar, saya dekati ternyata mereka sedang mencari Kerang Hijau  yang menempel di bebatuan penahan ombak yang membentang sepanjang pantai, saya coba  meniru mereka namun ombak besar membuat saya mundur dan tersadar, saya masih memegang sahabat saya si kamera Canon, Damn hampir saja .

                Begitu para pemuda itu mendarat di pantai, saya coba bertanya, ternyata mereka ramah dan enak diajak ngobrol, alhasil saya tahu jika Kerang Hijau adalah favorit para pelancong dan hasil tangkapan hari itu mereka serahkan pada sang Ibu yang bernama Bu Rokhayati untuk dijual, tau harganya? Hanya Lima Ribu Rupiah per kilo yang ketika istri saya merebusnya dirumah, bisa menjadi satu baskom ukuran sedang penuh.




                Sehabis berenang di pantai saya dan keluarga kemudian mampir ke warung sebelah barat pintu beton yang menjual aneka makanan seperti Lontong sayur plus Bakwan Udang, Sate Ayam, Teh Hangat dan aneka makanan khas pantai lainnya, enak bener, harganya murah, tidak komersial seperti objek wisata lainnya.

                Pantai Sendang Sikucing adalah potret dimana Pariwisata bisa menjadi mitra warga memperoleh penghasilan, sebuah simbiosis yang menyenangkan, pulangnya kami sempat memotret beberapa perahu kayu besar milik nelayan yang diparkir di sungai sebelah pantai, indah sekali.

Jumat, 05 Juni 2015

"Suwuk" Sang Kalung Penjaga Anak


“Suwuk” 


Sang Kalung penjaga anak anak

                Hidup di Kabupaten Kendal Jawa Tengah adalah unik dan mengesankan, ada beberapa tradisi dan adatnya yang jika dinalar tak akan masuk di logika namun ada filosofi dan khasiatnya yang terasa di dalam kehidupan nyata.

                Seperti cara pengobatan penyakit “Demarenen” atau sakit panas, flu dan batuk sekaligus pada anak Balita akibat ada salah satu keluarga dekat yang hamil, obatnya simpel, hanya dengan diselimuti Kain atau pakaian kerabat yang hamil itu ke tubuh anak yang sakit maka sembuhlah atas ijin Tuhan.

                Ada lagi tradisi Kalung untuk Balita yang bernama “Suwuk” saya tak tahu dari mana asal kalimat dari Suwuk itu, namun kalung ini konon dipercaya  oleh para orang tua secara turun temurun  berkhasiat untuk “Menjaga” anak dari gangguan makhluk halus atau dari sejumlah penyakit .

                Bentuk kalungnya beraneka ragam namun ada yang khas yaitu talinya tekstur dan warna mirip sumbu kompor minyak tanah,  di depannya ada semacam liontin atau bandul berisi apa saya gak ngeh, bentuknya kotak atau lonjong dibungkus selapis kain perca warna senada sumbu kompor juga, Suwuk ini konon bisa dibeli secara bebas di bakul jamu di Pasar Cepiring atau pasar lain di Kabupaten Kendal di bagian simbok yang menjual bahan  Jamu Jamu tradisional, atau  para dukun bayi juga masih menyediakan, tapi jangan tanya Apotek, dokter atau puskesmas disana beda urusan dengan Suwuk .

                Suwuk bisa juga berupa gelang yang ditalikan di tangan Balita, kelihatannya aneh dan tak masuk akal namun hingga tahun 2015 ini saya masih melihat dan bisa memfoto ada balita yang memakai Suwuk saat saya dolan ke pasar burung Wagean Cepiring di depan Koramil nJepiring.

                Tradisi seperti ini tetap bertahan di tengah melesatnya tehnologi dan kemajuan jaman, sebuah kekayaan budaya tersendiri, jangan hanya dipandang dari sudut agama atau apalah, pandang saja ini sebagai sebuah khasanah unik yang masih lestari.

Mas Machrus dan Yamaha 75 Hijaunya



Mas Machrus dan Yamaha 75 Hijaunya.

Saya masih menonton RCTI jam 230 pagi ini dimana ada sebuah film drama Holywood yg ber setting tahun jadul bercerita tentang seorang penulis bernama Miss Skeeter berikut beberapa backgroundnya yang unik dan khas mengenai interaksi antara kulit putih dan kulit hitam seperti masa dimana pembantu rumah tangga di Amerika waktu itu masih (Maaf) menggunakan jasa wanita kulit hitam dan sebagainya.

                Namun sayang perhatian saya terpecah, saya sedang tak ingin menjadi seorang peresensi film yang merupakan pekerjaan favorit saya, saya sedang ingin mengenang masa kecil.

                Disebuah acara pernikahan yang saya hadiri dengan rekan sekerja, saya berjumpa dengan figur yang lama  sekali tak pernah saya temui, dia bernama mas Machrus, ada sebuah cerita yang akan saya kenang seumur hidup dimana ketika masih kelas satu Sekolah Dasar  aku hidup diasuh oleh Simbahku di desa Patebon Kendal, sementara aku Sekolah di SD Cepiring 5 sebelum pindah ke SD Cepiring 1, jadi fenomena laju dan pindah dari satu tempat ke tempat lain adalah makananku sejak kecil.

                Jarak antara Patebon ke Cepiring sedikit jauh saat itu, saya dan Mbah setiap pagi dan Sore naik angkutan yang lazim disebut Isuzu padahal bisa jadi merk mobil angkutannya Daihatsu atau yang lain, terlambat masuk sekolah bukan hal aneh , biasa saja, cuekin.

                Saat  terlambat sekolah itulah kadang Mbah menitipkan aku membonceng seorang lelaki muda berambut keriting mengendarai Yamaha V75 hijau yang suaranya khas, kadang aku mengira itu suara mesin penyemprot asap untuk mengusir nyamuk DBD, lelaki ramah itu bernama Mas Machrus putra dari Pak Gombol yang punya Kereta Kuda pengangkut kayu untuk warung sate mbahku yang ada di Jalan Sriagung.

                Atas jasa Mas Machrus inilah aku tidak terlambat, lama sekali waktu berjalan memori ditolong olehnya masih membekas, ya namanya anak kecil secuek cueknya kan kadang takut juga kalo dimarahin guru saat terlambat.

                Kami berjumpa lagi setelah sekian puluh tahun tak berjumpa, namun saya tetap mengingat kebaikan hati beliau yang rela memboncengkan saya menuju sekolahan untuk belajar, terimakasih Mas, semoga gusti Allah membalas semua kebaikan panjenengan kepada saya .