Senin, 23 Maret 2015

"Gallery Of #Ayu Ting Ting " Photography by Aryo Widiyanto

"Gallery Of #Ayu Ting Ting " Photography by Aryo Widiyanto.






Polres Kendal Optimalkan Pengamanan Konser Rock



Polres Kendal optimalkan pengamanan konser Rock.

                Sabtu  21/3 bertempat di GOR Bahurekso Kendal sejumlah petugas kepolisian terlihat berjaga di sebuah acara Konser musik Rock yang diadakan sebuah produk rokok , malam minggu dimana seharusnya dinikmati sebagai malam bertugas santai bersama keluarga adalah malam yang sibuk bertugas bagi korps Bhayangkara tersebut.

                Mengantisipasi adanya hal yang tak diinginkan seperti kriminalitas, perkelahian , atau mungkin tawuran yang mungkin terjadi, panitia konser berkolaborasi dengan Polres Kendal mengadakan pemeriksaan ketat bagi para penonton yang akan masuk ke dalam Gedung Olahraga terbesar di kabupaten ini.

                Kapolres Kendal  AKBP Harryo Sugihartono melalui Kasat Sabhara AKP Winarno mengatakan bahwa semua benda yang memungkinkan terjadinya perkelahian atau melukai pengunjung lain diminta diepas dan ditinggal di pos pemeriksaan “ Sabuk dengan kepala logam, senjata tajam, botol kaca dan sejenisnya kami sita sebagai antisipasi terjadinya keributan, bersyukur nampaknya para penonton yang mayoritas remaja bersikap baik dan tertib” tuturnya.
                Konser yang dibuka dengan lagu berjudul “Ikuti” milik grup cadas Edane yang dimainkan musisi lokal menghentak seluruh pengunjung yang unik berseragam  hitam dan celana jeans belel, mereka berjingkrak, head bang, dan berteriak mengikuti irama, sementara para polisi didalam tetap siaga dan personel yang ada diluar berpatroli mengelilingi area GOR dan Alun Alun yang ramai dengan para keluarga yang sedang menikmati malam minggu.
                Kotijah (23)  warga Jambangan Botomulyo yang sedang menikmati suasana dengan makan ayam bakar di sekitar lokasi mengatakan bahwa konser yang sedang berlangsung tak mempengaruhi moodnya menikmati malam minggu “ Walaupun banyak anak muda jejingkrakan , namun suasana tetap aman dan nyaman, banyak pak Pulisi patroli, gak takutlah” ucapnya santai (Aryo Widiyanto)



               

Kamis, 19 Maret 2015

Mural Kendal Semakin Menggigit



Mural Kendal, semakin menggigit

            Seni Mural atau kita untuk gampangnya kita menyebut gambar dinding menurut sejarahnya  Mural berasal dari kata ‘murus’, kata dari Bahasa Latin yang memiliki arti dinding. Dalam pengertian kontemporer, mural adalah lukisan berukuran besar yang dibuat pada dinding (interior ataupun eksterior), langit-langit, atau bidang datar lainnya. Akar muasal mural dimulai jauh sebelum peradaban modern, bahkan diduga sejak 30.000 tahun sebelum Masehi. Sejumlah gambar prasejarah pada dinding gua di Altamira, Spanyol, dan Lascaux, Prancis, yang melukiskan aksi-aksi berburu, meramu, dan aktivitas relijius, kerapkali disebut sebagai bentuk mural generasi pertama.

Akar muasal mural ternyata sudah dimulai jauh sebelum peradaban modern, bahkan diduga sejak 30.000 tahun sebelum Masehi. Jika ditilik dari pernyataan sejarah diatas berarti manusia lebih mengenal ekspresi gambar terlebih dahulu dibandingkan dengan tulisan. Mural dalam perjalananan seni rupa tidak bisa dilepaskan dari jaman prasejarah kira-kira 31.500 tahun silam, ketika ada lukisan gua di Lascaux, selatan Prancis. Mural yang dilukis oleh orang-orang jaman prasejarah ini menggunakan cat air yang terbuat dari sari buah limun sebagai medianya. Lukisan mural pada jaman prasejarah ini paling banyak ditemukan, di Prancis, ada sekitar 150 tempat mural ditemukan, kemudian di Spanyol ada 128 tempat dan di Italia mural ditemukan di 21 tempat. Gambar mural-mural tersebut sebagian besar banyak menceritakan tentang kisah perburuan, meramu, juga aspek religius manusia pra sejarah. Terdapat juga bentuk mural ekspresi dengan gambar cetakan-cetakan tangan sebagai bentuk ekspresinya. aksi melukis di dinding goa-goa tersebut sebagai bentuk mural generasi pertama



            Mural menurut Susanto (2002:76) memberikan definisi sebagai lukisan besar yang dibuat untuk mendukung ruang arsitektur. Definisi tersebut bila diterjemahkan lebih lanjut, maka mural sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari bangunan dalam hal ini dinding. Dinding dipandang tidak hanya sebagai pembatas ruang maupun sekedar unsur yang harus ada dalam bangunan rumah atau gedung, namun dinding juga dipandang sebagai medium untuk memperindah ruangan. Kesan melengkapi arsitektur bisa dilihat pada bangunan gereja Katolik yang bercorak Barok yang melukis atap gereja yang biasanya berupa kubah dengan lukisan awan dan cerita di Alkitab.

             Mural mulai berkembang menjadi mural modern di tahun 1920-an di Meksiko dengan pelopornya antara lain Diego Rivera, Jose Clemente Orozco, dan David Alfaro.
Tahun 1970-1990 Mural mulai memperlihatkan eksistensinya adalah Jean-Michel Basquiat , graffitinya di sudut-sudut kota dan stasiun di New York, dengan tulisan S.A.M.O. sebagai identitas. Hal ini kemudian menginspirasi banyak seniman lain untuk berkarya di ruang publik. Salah satu seniman yang terpengaruh adalah Keith Haring yang kemudian banyak mengerjakan dan dianggap sebagai seniman mural selama kariernya (Sentoso, 2003).
Mural di Indonesia sudah ada sejak zaman perang kemerdekan. Pada saat itu, para pejuang mengekspresikan keinginannya melalui graffiti. Walaupun dengan skill dan peralatan yang masih sederhana, konsep tulisan di dinding menjadi paling aman untuk mengekspresikan pendapat secara diam-diam pada saat itu (Gusman, 2005).

        Perkembangan seni Mural di Kabupaten Kendal pada taahun 2015 ini semakin eksis dan  menunjukkan taringnya sebagai media mengekspresikan jiwa seni, kegundahan menghadapi situasi yang terjadi, bahkan sebagai joke atu lelucon atas kejadian politis atau kemasyarakatan yang terjadi saat ini.

                Beberapa  tempat strategis yang menjadi sarana para seniman Mural Kendal mengekspresikan diri adalah di Samping GOR Bahurekso, samping TK Pertiwi depan GOR, Stasiun Lama,dan bahkaan di dinding pasar Kendal, isinya bermacam macam, ada yang menyoroti pemerintah dan kebijakannya, luapan perasaan terhadap kekasih , dan anti narkoba.
                Sebenarnya jika pemerintah daerah jeli, para seniman mural ini bisa dihimpun dan diajak kerjasama untuk memperindah kota, selama ini Kabupaten Kendal hanya menjadi jalan perlintasan para pengguna jalan dari  arah Jakarta ke Jawa Timur dan sebaliknya, tak ada kenangan khusus tentang Kabupaten ini di benak para pelintasnya, secara pariwisata, tak  ada objek wisata Kendal yang “Dijual” di sepanjang jalan pantura, inilah vitalnya peran seniman, coba saja jika Diparta Kendal  bersama para seniman mural lokal  membuat  display mural di sepanjang jalan Pantura yang berisi  tentang apa saja objek wisata di Kendal yang indah dan marketable, tentu akan menjadi referensi tersendiri yang  unik  dan mengesankan, semua tergantungg goodwill dan inisiatif pemerintah, kita lihat nanti (Aryo Widiyanto dari berbagai sumber)

Rabu, 18 Maret 2015

Ketua DPRD Kendal laksanakan Reses



Ketua DPRD Kendal laksanakan Reses

 
Memasuki masa Reses dimana seluruh anggota DPRD  melakukan kegiatan di luar masa sidang, terutama di luar gedung gedung DPRD misalnya untuk melakukan kunjungan kerja, baik yang dilakukan anggota secara perseorangan maupun secara berkelompok mengunjungi konstituennya di daerah pemilihan masing masing, menjadi agenda wajib yang dilaksanakan oleh Ketua DPRD Kabupaten Kendal H.Prapto Utono S.Sos.

Bertempat di Desa Gladaksari RT 03 RW 12 Kecamatan Kaliwungu , Haji Tono, demikian dia akrab disapa, mengadakan reses di rumah warga yang dihadiri oleh sejumlah ketua RT, Ketua RW, tokoh agama, tokoh pemuda, dan tokoh wanita , dalam pertemuan yang berlangsung santai Rabu 11/3  sehabis Isya itu dibahas berbagai permasalahan yang terjadi di daerah tersebut seperti jalan yang perlu diperbaiki, pencegahan berbagai potensi penyakit dimusim hujan hingga saluran air dan sungai yang perlu dikeruk. 



Sementara acara reses yang dilaksanakan pada hari kamis,12/3/2015 dihadiri oleh Kepala Desa dan Perangkat Desa se Kecamatan Brangsong serta kepala UPTD Pendidikan,Kesehatan serta Binamarga Brangsong, dengan tema Sinkronisasi hasil Musrenbang Kecamatan dengan Desa serta Sosialisasi Rencana Perda Inisiatif tentang Jalan dan Irigasi , sejumlah aspirasi mengemuka diantaranya  disampaikan  oleh Kepala Desa Kebonandem Kumaidi yang meminta agar ada perbaikan jalan poros desa brangsong dan perbaikan drainase pertanian di desa kebonandem serta perlu adanya pos kesehatan di desa Kebonandem,  kepala UPTD Kesehatan Brangsong menyampaikan  agar Puskesmas Brangsong ditinggikan mengingat jika hujan turun Puskesmas   tergenang banjir. sedangkan Kepala UPTD Pendidikan Brangsong menyampaikan perlunya PAUD Negeri di Kecamatan Brangsong serta banyaknya SD yang pelu direhab ruang kelasnya serta pembuatan ruang perpustakaan, Didik (34) seorang  perangkat desa Rejosari juga meminta ada 3 proyek apirasi di brangsong yang gagal lelang agar menjadi prioritas untuk dilaksanakan.

Marsudi (40) warga Gladaksari mengatakan berbagai persoalan yang ada di tengah warga perlu diketahui segera oleh para anggota DPRD Kabupaten mengingat para anggota dewan adalah wakil rakyat,jangan sampai masa reses ini hanya sekedar formalitas tanpa ada manfaat yang terasa di masyarakat.

“ Masa Reses, sebagaimana juga Musrenbangdes,Musrenbang Kecamatan dan Musrenbang tingkat Kabupaten adalah sarana bagi warga untuk secara terbuka menyampaikan apa yang menjadi problem di desa dan wilayahnya, kami sebagai anggota dewan siap menjadi wakil yang memperjuangkan aspirasi rakyat” tegasnya didampingi Hj Nur Hidayati S.Pd istrinya (Aryo Wd)


DPRD Kendal gelar Public Hearing Pendidikan Gratis.



DPRD Kendal gelar Public Hearing Pendidikan Gratis.

                Bertempat di aula gedung dewan Kabupaten Kendal Sabtu 14/3 DPRD Kabupaten Kendal dan Dinas Pendidikan Kendal menggelar rapat dengar pendapat atau Public Hearing mengenai Penyusunan Naskah Akademik Dan Draft Raperda Kab Kendal Tentang Pendidikan Gratis, serta Penyusunan Naskah Akademik Dan Draft Raperda Kab Kendal Tentang Wajib Belajar Diniyah Nonformal.
                Hadir dalam acara tersebut Ketua DPRD Kabupaten Kendal H. Prapto Utono S.Sos, Ketua Komisi D DPRD Kab Kendal, Sejumlah anggota Komisi D seperti Rubiyanto ST dari Fraksi PKS dan Aminudin SH dari Fraksi PAN, Kepala Dinas Pendidikan Drs Muryono S.Pd.M.Pd, para Kepala UPTD Disdik, Kepala Sekolah dari tingkat SD hingga SMA, Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah hingga Madrasah Aliyah dan Pondok Pesantren, Tokoh masyarakat, LSM Pendidikan dan Pemerhati Edukasi.

                Dalam sambutannya Ketua DPRD Kabupaten Kendal menegaskan bahwa sesuai amanat Undang Undang, Pendidikan adalah hak semua warga negara, DPRD siap mengawal dan mensukseskan program Pendidikan Gratis untuk warga Kendal “ Forum dengar pendapat ini tentu dengan memperhatikan beberapa panduan sistematika naskah akademik diantaranya latar belakang ,identifikasi masalah, kajian teoritis dan praktik empiris, kajian dampak, evaluasi dan analisis perundangan berdasar landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis untuk kemudian dikaji bersama dan berujung pada sebuah terbitnya sebuah Peraturan Daerah mengenai pendidikan gratis di semua tingkatan dari SD/MI, SLB,SMP/MTs, SMLB,SMA,MA dan SMK Negeri Swasta  ” Paparnya.
                Kepala Dinas Pendidikan Kendal  Drs Muryono S.PD.M.Pd mengungkapkan bahwa prioritas utama dalam public hearing bersama dengan DPRD dan masyarakat ini adalah terwujudnya  target Wajib Belajar 12 Tahun sesuai amanat Perda no 10 Tahun 2012, Pendidikan Gratis untuk semua warga, serta terlaksananya gerakan Kendal Cerdas.
                Pandangan lebih tajam disampaikan oleh anggota Komisi D DPRD Kendal Rubiyanto ST Dan Aminudin, didepan audiens kedua anggota dewan yang terkenal kritis ini secara terbuka meminta agar kinerja Bagian Sarana Dan Prasarana Dinas Pendidikan harus lebih dioptimalkan “ Komisi D dan Badan Anggaran akan berupaya meningkatkan anggaran untuk pendidikan lebih tinggi dari tahun sebelumnya, untuk itu Bagian Sarpras Disdik kami sarankan untuk bisa menyerap optimal anggaran tersebut” terang Rubiyanto, sementara Aminudin menyoroti tentang janji Bupati Widya Kandi tentang pendidikan gratis semasa Pilkada 5 Tahun lalu mengenai pendidikan gratis harus terpenuhi sebelum masa jabatannya berakhir dan tidak sekedar retorika , “ Dengan adanya pendidikan gratis dan memperkuat komitmen mensukseskan Wajib Belajar Diniyah Nonformal, kami selaku wakil rakyat ingin agar terciptanya peningkatan kualitas pelajar yang tidak hanya kuat dalam pelajaran secara umum namun secara Aqidah juga kuat,kami ingin memberikan contoh bagaimana anak anak bisa bermental dan bermoral baik , tentu disamping fasilitas pendidikan yang bagus juga dengan contoh yang baik dari moral pemimpinnya” tutur Aminudin.
                Setiawan (35) dari LSM Eksponen 98 Kendal yang konsen dibidang sosial masyarakat dan pendidikan menyebut bahwa Public Hearing ini merupakan sebuah transparansi yang perlu diapresiasi dan kerja nyata dari DPRD Kendal berkolaborasi dengan Pemkab dan praktisi pendidikan “ Perlu diciptakan iklim dimana DPRD selaku wakil rakyat selalu memperhatikan dan mengetahui kebutuhan masyarakat melalui acara semacam reses, penyerapan aspirasi dan public hearing seperti ini, Pemkab selaku pengguna anggaran tentu juga harus optimal dalam mempergunakan dan menyerap anggaran karena itu dipertanggung jawabkan kepada rakyat” tegasnya.(Aryo Wd)