Senin, 08 Mei 2017

Bencana Yang Mempersatukan



Bencana Yang Mempersatukan .

                Tahun 2017 ini adalah menurut saya tahun yang memprihatinkan dari segi persatuan dan kesatuan bangsa, entah demi kepentingan segelintir sekelompok politik atau kepentingan yang lebih besar namun jelas sekali perpecahan yang berakar dari sebuah event politik membuat potensi anak bangsa yang seharusnya hebat malah menjadi kontra produktif, tehnik Hate Spin seperti Hoax dan sentimen SARA menjadi senjata utama yang ampuh mengoyak sendi keragaman Bhinneka Tunggal Ika yang sekian lama menjadi kekuatan bangsa ini.

                Kita bangsa Indonesia yang tersohor karena keramahan , dulu mampu mempersatukan ribuan suku dan ratusan pulau dari Sabang sampai Merauke, kini maukah kita dipandang sebagai bangsa yang ahli berkoar negatif di medsos,  saling sembur ludah basi dengan saudara sendiri di dunia nyata dan maya?.

                Jika di Indonesia terjadi bencana dimana persatuan kesatuan tersobek oleh ulah para penikmat syahwat politik, kita melompat ke negara tetangga kita yang konon namanya berasal dari bahasa Maluku Osutaralia, yaitu Australia.

                Membaca sobekan kliping koran Kompas Minggu 9 April 2017, Australia mendapat pelajaran dari bencana  Badai Debbie yg terjadi tgl 28 Maret2017 dimana 6 orang tewas, badai  tropis yang berkategori 4 disertai hujan lebat dan angin kencang 225-279 KM /Jam  ini menggila  di negara bagian Queensland dengan ibukota Brisbane, dan New South Wales yg beribukota Sidney, 

Tapi  uniknya badai itu malah membuat Australia bersatu, PM Turnbull dan pemimpin oposisi Bill Shorten serta semua pejabat dari menteri besar negara bagian atau premier, hingga walikota turun menyambangi warga .

Pihak swasta seperti Perusahaan kue Baked Relief turut membagikan kue gratis pada para korban, mereka juga ternyata punya  budaya gotong royong atau yang disebut Mateship , persatuan kesatuan ala Australia bergelora, relawan di queensland mencapai 65.000 orang sementara di Brisbane 1000 orang, mereka menamakan diri “Tentara Lumpur” dan “ Tentara Banjir” . Bencana badai dahsyat itu mempersatukan mereka.

Pertanyaan untuk kita bangsa Indonesia tercinta, apakah perlu misalnya untuk bersatu saja kita butuh diberi bencana oleh sang Maha Kuasa?.

Ayolah kawan, hilangkan birahimu untuk berperang,apalagi memerangi saudara setanah airmu sendiri, “ Menang ora kondang kalah wirang “ artinya menang pun kalian tidak hebat, jika kalah memalukan,  perang itu hanya enak untuk ditonton di film, jika kalian mengalami perang , catat ini, pasti semua pihak menderita, terlebih yang menderita adalah anak anak kita, tega sekali kalian mengorbankan generasi Indonesia untuk kesenangan dan syahwat politis. Lebih baik gunakan energimu untuk bekerja terbaik, majukan kehidupan pribadi, kehidupan berbangsa dan bernegara Mari bersatu dan terus berkarya demi Indonesia Jaya !!

Ditulis oleh : Aryo Widiyanto, Journalist, Traveller , Backpacker, , Photographer, dan Abdi Negara, Blogger di aryowidiyanto.blogspot.com. Twitter di @aryowidi , Facebook :Aryo Widiyanto, email di : aryo_widi@yahoo.co.id. Address: Jl Sriagung 234 Cepiring Kendal Jawa Tengah Indonesia. Instagram :Aryo Widiyanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar