Rabu, 01 Juni 2011

Jangan Ambil Nyawa Orangtua Kami


Jangan Ambil Nyawa Orangtua Kami

Maraknya penembakan polisi di berbagai wilayah Indonesia seperti yang terakhir terjadi di Poso dimana tiga bhayangkara Negara meninggal dunia ditembus timah panas seakan menjadi tragedy dan ironi.
Ironis karena pada hakikatnya tugas polisi adalah pelayan dan pengayom masyarakat, lihat saja bagaimana setiap pagi buta hingga malam pekat anggota Satlantas bekerja keras mengatur lalu lintas, menyeberangkan anak kita yang berangkat dan pulang sekolah, mempertaruhkan kesehatan menghirup asap timbale yang dikeluarkan knalpot kendaraan, lalu patroli oleh Satuan Samapta , Reserse intel maupun ungsi yang lain semua bermuara pada satu hal yaitu menciptakan rasa aman di masyarakat.
Memang ada oknum anggota yang “nakal” di kepolisian, namun jangankah itu menjadikan “nila setitik rusak susu sebelanga”, janganlah itu menjadi dendam sehingga timbul tindakan amoral membenci semua polisi dan berujung pada penembakan membabi buta menghilangkan nyawa .
Sebagai pribadi, saya adalah anak polisi yang kebetulan bapak saya hilang nyawa karena sebutir peluru yang menembus jantungnya di polsek cepiring sekitar tahun 1979, penembaknya mungkin menyesal, namun tahukah betapa susahnya tumbuh dan besar tanpa figur bapak kandung yang mengasihi, membimbing dan mengarahkan kemana kita kan melangkah, belum lagi jika ada ejekan dan hinaan , siapa yang akan membela dan menenteramkan hati dan memberi semangat, kehidupan tanpa ayah adalah berat bagi anak yang kehilangan bapaknya.
tahukah betapa susahnya ratusan bhayangkari yang kehilangan nyawa suaminya ketika berdinas di kepolisian Republik Indonesia yang kita cintai ini.
Para istri Polisi anumerta itu walaupun sedikit pasti merasakan pedihnya kehilangan suami yg bertugas membela Negara, tapi siapa yang peduli akan nasib mereka, belasungkawa hanya sekejab, kehidupan berjalan terus, memang teman satu korps masih sering membagi kasih sayang namun tak selamanya mereka ada untuk istri para anumerta itu, kehidupan sudah masing masing, rumahtangga sudah berbeda.
Sudah seharusnya para petinggi Polri memikirkan nasib anak dan isrri para polisi yang meninggal dalam tugas. Jiwa raga Polri adalah untuk Indonesia tercinta semoga Negeri tercinta ini juga peduli pada kami.


Aryo Widiyanto
Wartawan Majalah Bhara Mitra Bahurekso
Polres Kendal

Tinggal di Jalan Sriagung 234 Cepiring Kendal
Jawa Tengah

Dan saya Bangga sebagai Putra Polisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar