Senin, 16 Februari 2015

Kisah Gedung Bioskop Cepiring Kendal Jawa Tengah



Gedung Bioskop Sriagung Cepiring Kendal Jawa Tengah.

Legenda Kejayaan Film Nusantara Di Rumah Sendiri.




                Jaman Keemasan Perfilman Nusantara terekam dalam jejak tumbuh suburnya bioskop di tingkat Kabupaten, salah satunya adalah di Kabupaten Kendal.

                Di Tahun 70 hingga 90 an, dinamika perbioskopan menjadi sebuah bisnis yang cukup menggiurkan, salah satu bioskop yang ada di Kabupaten Kendal  adalah Bioskop Sriagung yang terletak di desa Cepiring ,sekitar 15 menit perjalanan dari pusat kota Kendal kearah barat.

                Catatan saya, disekitar tahun 1983-1984 saat itu usia saya sekitar umuran TK atau SD, melihat hiruk pikuk penonton di bioskop Sriagung seakan adalah sebuah pasar malam, setiap malam minggu ada Midnite Show yaitu pertunjukan tengah malam memutar film India atau film Barat, begitu kami menyebut film produksi Amerika  dan Eropa seperti James Bond dan Indiana Jones, kemudian Minggu Paginya ada pemutaran film di Pagi hari yang disebut “Extra Show” dengan tiket yang lebih murah.

                Beranjak semakin besar kelas 6 SD hingga SMP  saya mulai suka nonton film, semua film saya tonton terutama  film Indonesia yang dibintangi Rano Karno, Yessi Gusman, komedi Bing Slamet,Ateng, Iskak dkk,  Dono Kasino Indro,film laga yang dibintangi Barry Prima, Advent Bangun, dengan berbagai judul seperti Sibuta dari Gua Hantu, Wiro Sableng dll,  film horornya Suzanna, dan film erotis Indonesia lainnya , ini yang bikin keder, karena banyak adegan celana pendek  bersliweran,  namun yang paling menghebohkan adalah saat film yang diputar adalah filmnya Rhoma Irama, percaya atau tidak, saya masih ingat jelas antrian penonton mengular hingga hampir menyentuh jalan raya yang jaraknya cukup jauh dari pintu masuk gedung bioskop hanya demi menonton sang Raja Dangdut beraksi di layar lebar, antrian itu tak hanya berjaln sehari, namun hingga hampir 4 atau 5 hari , maklumlah karena gedung bioskop ini adalah satu satunya di wilayah Cepiring,Gemuh, Pegandon, hingga ujung utara pesisir Korowelang,  bioskop yang lain ada di Weleri dan Kendal , antrian film Rhoma Irama ini hanya bisa disaingi film Arie Hanggara yang mengisahkan kematian seorang anak oleh Ibu tirinya, dan film Rocky IV yang dibintangi Sylvester Stallone. Film Indonesia saat itu benar benar melambung tenarnya, bahkan jika ada layar tancap di pesta rakyat giling tebu PG Tjepiring, pasti memutar film Indonesia.

                Seingat saya Gedung bioskop ini adalah milik keluarga Pak Roto, seorang pensiunan Tentara Angkatan Darat, istrinya bernama Bu Rhodiyah, anak anaknya seperti Mas Drajat, Mas Bowo (Alm), mas Agus (alm) mbak Ning, Mbak Tini, dan Mas Huri yang dinas di TNI AD bagian Komunikasi dan Perhubungan.

                Saat itu direksi Sriagung adalah Pak Paryono, kemudian yang jaga karcis Bude Sri , yang jaga pintu masuk mas Moh Cilik, bagian antar jemput film dari Kendal ke Cepiring adalah Bung Siponadi alias Bang Sindu, unik juga pria ini, bang Sipon dikenal jago Kungfu, badannya pendek, gempal, namun pintar sekali pamer ke saya dengan keahliannya push up satu tangan, peragaan jurus ala Bruce Lee dan Chen Lung yang kini dikenal sebagai Jacky Chen,  Bung Sipon memperagakan lengkap dengan gaya mengusap ingus sambil kepalanya digelengkan, saat itu Aryo kecil cuma bisa bilang “Waduuuh, apik meni raaa”, sembari menoleh ke rombongan kecilku seperti Mas Henggar, Mas Sis , Mas Untung, Nanang Denggel, dan Kentus yang terpana kagum melihat kelihaian Buceli nya Tjepiring itu.

Masyarakat pecinta Sriagung yang berasal dari berbagai desa disekitar Cepiring beragam, mulai ada yang bermotivasi mencari cewek, pacaran di dalam gedung yang kursinya terbuat dari kayu jati disekat lempengan besi, ada yang sekedar mencari hiburan, setelah nonton makan di warung sate kambing Pak Dul, terbaik dan  terenak di Kendal  yang terletak tak jauh dari bioskop Cepiring (Waduh, lha nek ini jelas promosi ), ada juga yang pethintingan berlagak ala preman ndeso,  ada copet dan maling serta pemabuk dan satu hal yang saya ingat , banyak Begenggek alias WTS alias Pelacur yang beroperasi  di dalam bioskop, pernah suatu kali ada pelacur bernama Suthur dari desa Damarsari bernasib nahas, pelanggannya yang sedang mabuk mungkin kurang puas atau apa, pelacur legendaris ini dilempar ke selokan sungai kecil dibelakang  Balai Desa Cepiring, dan Cepiring pun heboh saat itu.

                Perilaku menonton masyarakat Cepiring pun juga menarik, ketika jaman jayanya film Arie Hanggara, saya melihat banyak wanita dari pedesaan terisak isak bahkan ada yang “Nggembor” alias berteriak memaki Joyce Erna yang berperan sebagai Ibu tiri,  saat filmnya hot banyak juga yang menirukan asyik sendiri  di kursi bioskop yang kerasnya minta ampun dan penuh “Tinggi”alias Kutu Busuk penghisap darah manusia, dan ini yang paling berkesan, ketika film Rocky IV yang dibintangi Sylvester Stallone tang berperan sebagai Rocky Balboa melawan petinju Rusia bernama Ivan Drago yang diperankan Dolph Lundgren, penontonnya terlalu menghayati, mereka berteriak aduh aduh saat Rocky kena pukul dan dihajar Drago, namun saat Drago ganti digebuki jagoan Amerika itu, serentak seluruh penonton berdiri dan berteriak menyemangati dan turut gembira atas kemenangan Stallone, seakan mereka benar benar menonton sebuah pertandingan tinju, wow..amazing


                Gedung Bioskop Sriagung  merupakan kenangan kejayaan film Indonesia dirumah rakyatnya sendiri jauh beda dengan sekarang, mungkin karena sekarang ada Televisi yang berjumlah puluhan di Channel tiap rumah, dulu hanya ada TVRI, beda masa beda selera, kita cukup mengenang Bioskop Sriagung sebagai kenangan manis yang mungkin akan hilang tergerus jaman suatu masa nanti, seperti musnahnya gedung bioskop Sriagung berganti menjadi Indomaret. Farewell Sriagung We’ll miss you as always. 


Si Buta Dari Gua Hantu oleh : http://www.hobijadul.com/2013/07/poster-film-jadul-serial-si-buta-dari.html



Tidak ada komentar:

Posting Komentar