Kamis, 04 April 2013

Pecel Semanggi dan Sate Keong di Nuansa Pagi Kota Kendal




   



Pecel Semanggi dan Sate Keong di Nuansa Pagi Kota Kendal



 

                Setiap Minggu Pagi, kala sang Surya masih malu menampakkan sinarnya dalam balutan dinginnya embun, aktivitas warga Kendal seolah menggeliat kencang untuk menikmati nuansa segar berwisata  di Alun Alun Kendal dan komplek patung Garuda di jantung kota Bahurekso ini.

                Diantara kemeriahan Minggu Pagi  yang menawarkan berbagai kesenangan alami nan menarik seperti jalan jalan sehat atau jogging di seputaran Alun Alun , pijat refleksi dengan menginjak batu terapi  yang dipasang oleh Pemkab Kendal , naik Kuda mini , menjajal Odong Odong bersama keluarga sambil melihat keramaian pedagang menjajakan berbagai dagangan seperti  perabot pecah belah dan aneka tanaman hias tentu merupakan pelepas penat tersendiri.
                Bagi pecinta wisata Kuliner, ada sebuah seni tersendiri ketika menjelajah komplek Taman Garuda yang terletak di sebelah kiri GOR Bahurekso Kendal, disana para pedagang masih setia menggelar dagangannya berupa makanan tradisional  seperti jajanan Jadul nikmat macam Andil Andil  cemilan manis terbuat dari Gandum berwarna merah dengan taburan saus gula merah disekelilingnya , Awul Awul penganan terbuat dari Singkong berwarna coklat dengan tekstur lembut berwarna Coklat muda ditaburi serbuk kelapa muda, atau Gemblong yang terbuat dari Ketan, Klepon si bundar yang bila dimakan maka akan meledakkan semburan gula merah di mulut kita, dan Jongkong  yang terbuat dari Singkong ditengahnya ada gula merahnya dibungkus  daun pisang.
                Disamping  cemilan manis tersebut kita juga bisa menikmati berbagai makanan gurih nan sedap seperti Jagung Bakar , Soto Ayam, Bubbur Ayam, Bubur Kacang Hijau, atau jika masih beruntung dan belum habis diborong para pembeli, akan anda jumpai sejumlah nama makanan khas Kendal seperti  Sate Keong (Lidah Kendal menyebutnya Kiong) atau Pecel Semanggi
                Sate Keong bentuknya sama dengan sate Kerang namun teksturnya agak keras namun rasanya lebih tajam karena bumbu sambal uleknya ditambahi sedikit daun Kemangi  yang harum, sementara  Pecel Semanggi adalah olahan Kuliner yang tak ada duanya di Indonesia, karena ini khas Kendal Banget, terbuat dari daun Semanggi, sayuran legendaris yang tumbuh liar di persawahan Kabupatten Kendal, rasanya unik  beda dengan sayuran lainnya, dipadu dengan sambal kacang dan sedikit kuah pedas maka lengkap sudah perjalanan anda berwisata di Kendal.
                Menurut  Mbak Rohmah (45)  sang penjual Pecel Semanggi ini , beberapa waktu lalu Bupati Kendal  Dokter Widya Kandi Susanti  mengajak sejumlah penjual makanan tradisional termasuk dirinya untuk berpameran di Taman Mini Indonesia Indah “ Sambutan pengunjung TMII luar biasa, mereka tak menyangka jika masih ada makanan yang sangat tradisional seperti yang dimiliki Kendal, matursuwun Ibu Bupati Kendal “ ucap warga Karangsari ini karena merasa nasibnya diperjuangkan di level Nasional oleh Bupatinya.
                Kedepan langkah Pemkab Kendal yang melestarikan berbagai makanan tradisional ini semoga tetap dipertahankan  karena disamping mempertahankan budaya juga memberi penghidupan pada  masyarakatnya. (Aryo Widiyanto)            

Minggu, 03 Maret 2013

“Wiwitan Pabrik Gula Cepiring”





“Wiwitan Pabrik Gula Cepiring”  Kabupaten Kendal

Cerobong Asap Raksasa PG Cepiring Ikon Kota Cepiring Kab Kendal_Foto :Aryo Widiyanto


Sebuah Tradisi Pesta Rakyat yang terlupakan 


                Berpuluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun  lamanya masyarakat di Kabupaten Kendal pernah menikmati sebuah tradisi pesta rakyat yang  dinamakan “Wiwitan “ sebuah kata yang berasal dari kalimat “Wiwit “ yang artinya permulaan.
                Ya, memang tradisi Wiwitan ini adalah sebuah tradisi berwujud sebuah pasar rakyat atau lebih akrab dinamakan pasar malam yang diselenggarakan pihak Pabrik Gula (PG) Cepiring  untuk menandai awal atau permulaan  proses penggilingan tebu di pabrik gula satu satunya di Kabupaten Kendal ini.
                Prosesi Wiwitan ini sendiri tergolong unik dimana didahului dengan acara pawai dan arak arakan Penganten Tebu berupa simbol dua batang tebu yang didandani layaknya sepasang suami istri , biasanya melibatkan kesenian lokal seperti Barongan, Jaran Eblek dan Dawangan yang berada di baris depan mengawal seekor kerbau yang akan disembelih dan kemudian kepalanya ditanam di bawah Krosteen atau cerobong asap berukuran raksasa yang merupakan Ikon kota Cepiring sejak jaman penjajahan Belanda.
                Setelah ritual penguburan kepala Kerbau tersebut kemudian selama kurang lebih seminggu masyarakat akan dihibur oleh sebuah event pasar malam yang meriah dan ramai untuk ukuran jaman itu , ambil sampel ditahun 1985 an ketika penulis masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kami para bocah selalu menunggu adanya pesta rakyat ini, disamping melihat kesenian Barongan, kami selalu terpesona dengan sejumlah mitos yang ada di seputar pabrik  gula itu seperti sepasukan Hantu Tentara Belanda yang  gentayangan ditengah malam menemui para pengunjung Wiwitan atau cerita tentang Hantu Noni Belanda cantik di lokasi Gedung besar  yang konon sempat menjadi markas tentara Belanda dan bahkan hantu bule yang berpakaian compang camping di bangunan SD Negeri 3 Cepiring dulunya menurut hikayat adalah merupakan  Rumah Sakit Jiwa bagi orang Belanda yang tertekan karena perang  dan sebab yang lain, cerita mistis yang tak jelas ujung pangkalnya membuat acara Wiwitan menjadi lebih seru dan menarik bagi kami yang saat itu tak begitu akrab dengan televisi dan film kartun.
                Pasar malam itu sendiri sebagaimana pasar malam yang ada di Kabupaten Kendal saat ini namun sangat  jauh lebih meriah, ketika itu menjelang saat sore tiba saya masih ingat ratusan orang dari desa desa di hampir seluruh Kabupaten Kendal dengan mengendarai sepeda atau angkutan umum berupa mobil minibus yang penuh sesak bercampur baur antara bau solar, keringat , dan onggokan karung berisi bunga Melati dari daerah Sukorejo dan sekitarnya serta  
Dermolen berbentuk gajah_foto :Aryo Widiyanto
Dermolen Berbentuk kuali_Foto Aryo Widiyanto
Atraksi Tong Stand alias Tong Setan
                Menjelang Isya warga yang datang semakin bertambah banyak terutama di hari pertama dan terakhir Wiwitan, suasana hingar bingar dari para tukang parkir sepeda,karena jaman itu alat transportasi utama adalah sepeda , ditambah dengan riuhnya para penjual buah Duku dan Salak ,entah kenapa di setiap Wiwitan saya selalu menjumpai penjual buah Duku ini padahal saat itu mungkin bukan musimnya, penjual makanan seperti Martabak dan Bolang Baling, pedagang mainan tradisional seperti Otok-Otok yaitu semacam Kaleng yang diberi roda,diatasnya ditempelkan kayu berbentuk seperti  kepala ayam jago dan dibawahnya diantara as roda kayu itu diberi karet yang tengahnya diberi potongan kayu sehinga ketika bilah bambu yang berfungsi sebagai pendorong didorong maka akan berbunyi  otok..otok..otok.., lalu ada juga penjual mainan Kapal Uap terbuat  dari seng dimana didalam “Kabin” kapal kaleng itu diberi semacam bahan bakar terbuat dari Kapas yang dicelupkan kedalam minyak kelapa, ketika sudah panas maka kapal itu akan bergerak maju dengan sendirinya dan mengeluarkan suara yang khas dan aroma minyak yang niscaya akan selalu terkenang sepanjang masa , para bakul itu dari  pintu depan berjejer memenuhi  jalan beraspal yang ada di kompleks PG Cepiring sepanjang mungkin dalam radius 4 Kilometer jika diukur keseluruhannya menjadi sebuah simbiosis dengan para pebisnis  wahana permainan seperti  Tong Stand atau yang diplesetkan oleh lidah orang Kendal menjadi Tong Setan yaitu pertunjukan ketrampilan menaiki motor Trail yang mampu menaiki semacam panggung raksasa berbentuk seperti Tong terbuat dari kayu, ada lagi Jinontrol  sebuah wahana permainan berbentuk seperti kincir air yang bisa ditumpangi sekitar 20 orang bergerak dari bawah keatas, dan percayalah ketika saya mencobanya begitu sampai diatas paling puncak yang mungkin 40 meter dari atas tanah , rasanya hati ini deg degan kenceng banget , membayangkan seandainya  as pemutar roda raksasa ini lepas dan kami semua ikut menggelinding bersama Jinontrol itu seperti puluhan ekor Hamster tak berdaya terkurung di kotak besi yang bentuknya mirip jok becak, sungguh pengalaman yang mendebarkan, jika Jinontrol bergerak dari bawah ke atas, lain lagi dengan Ombak Banyu  dan  Dermolen wahana ini relatif aman,karena  gerakannya memutar melingkar dan kami para bocah dimanjakan  dengan hanya duduk di atas kayu berbentuk  Kuda  dan terkadang Gajah atau mobil, tadinya saya kira Dermolen itu digerakkan oleh mesin namun sebuah kejadian ketika  saya melirik tak sengaja ke samping, ternyata “Mesin” itu adalah berupa tenaga manusia para pekerja dermolen yang dengan penuh semangat  mendorong  dermolen itu hingga berputar selama mungkin seharian penuh.sebuah pekerjaan yang berat, tapi dasar kami para anak anak mana mengerti tentang penderitaan para pekerja dermolen itu,tawa kami ternyata berlandaskan  keringat para pendorong dermolen, sebuah ironi yang tak terlihat diantara kegembiraan.
                Jika anak anak punya tujuan mulia ingin menikmati suasana wiwitan dan menghabiskan uang saku dari  orang tuanya dengan membeli Bolang Baling, Arum manis, dan berbagai jajan serta mainan, lain lagi dengan    ”  modus “ para pelaku kriminal yang seiring dengan datangnya berbagai kesempatan empuk para pengunjung dari pedesaan yang cenderung narsis dan percaya diri banget memakai perhiasan seperti kalung ,gelang, cincin dan bahkan gelang kaki  yang mencorong dan  bergelantungan seakan etalase toko emas berpindah ke tubuhnya, menjadi sasaran para Copet dan Jambret yang membaur bersama para penikmat Wiwitan, kalo dah begini, yang repot pasti para Wakeer  alias Satpam Pabrik Gula  menerima pengaduan para korban copet yang tak jarang  menangis histeris ditonton kerumunan pengunjung yang mungkin menganggapnya sebagai bagian dari  kemeriahan Wiwitan.
                Masih jelas tercetak dalam ingatan saya , tak hanya anak anak dan para pencopet yang menganggap moment Wiwitan sebagai ajang panen  kemeriahan setahun sekali, para remaja dan para “Jomblo” alias pria dan wanita kesepian yang  barusan putus cinta atau belum menemukan jodoh acap menjadikan Wiwitan sebagai aksi unjuk eksistensi diri demi meng “gebet” sang pujaan hati, biasanya para jomblo itu berangkat agak gasik (Awal-red )  berjalan ramai ramai menikmati nuansa sore ditingkahi  indahnya lingkungan pabrik gula membayangkan diri menjadi rombongan Romeo dan Mercutio yang menanti Julietnya datang mendekat di sepanjang jalan yang dapat dinikmati sebagai jalur alternatif  atau jalan pintas menuju desa di sekitarnya, jalan PG Cepiring hingga saat ini memang tergolong jalan paling romantis karena di tepinya tumbuh pohon flamboyan dan Cemara Angin  yang membuat teduh dan indah, ditingkahi kicauan burung gereja di atap atap bangunan bergaya Gothic yang dibangun oleh Kompeni Belanda sejak jaman penjajahan.
                Bagi para penikmat musik Dangdut yang merasa harus menumpahkan adrenalinnya dengan cara berjoget sepuas hati, ajang perjogetan ini mendapat porsi   tersendiri dari panitia , di lapangan samping kanan Gedung Besar  yang  luas itu berdiri sekitar dua atau tiga panggung yang tertutup rapat dengan Papan Kayu atau Seng, secara vulgar didepannya terdapat baliho atau spanduk berlukiskan para penyanyi wanita dengan pose yang  “berani” samar samar masih terbayang grup yang sering manggung disana itu adalah Ken Dedes dan Kelana Karya, pengunjungnya berjubel  dan tentu saja hukum kala itu tak seketat sekarang  bau minuman menguar dari para pejoget yang kelebihan tenaga,ngosek kesana kemari, bersenggolan dengan sesama pengunjung bahkan sampai baku pukul tak terhindarkan, dari ajang inilah mungkin tercetus sebuah rivalitas abadi antara para pemuda Desa Sidomulyo dan grup Kermitj alias Kelompok Remaja Militan Tjepiring terjadi dan menimbulkan fenomena permusuhan antar desa yang melegenda di sekitar tahun 80 an hingga pertengahan 90an.
                Kejayaan Pabrik Gula Cepiring membawa imbas manis bagi para penduduknya saat itu, banyak pemuda desa yang bekerja disana, jarang ada pengangguran, setiap pagi sekitar jam 6 terdengar bunyi yang kami sebut Singal (Dari Kata Signaal-Red)  kami merindukan setiap pagi adda Langes  atau sisa pembakaran tebu menjadi gula bentuknya hitam mirip arang tapi ringan seukuran bulir padi menyebar  dengan bau manis disekitar atap rumah kami saat itu, tak ada yang protes tak ada yang rewel karena kami sadari Langes itulah yang membuat kehidupan ekonomi berjalan lancar , hingga sekitar tahun 1997 semua cerita tentang Wiwitan menjadi sebuah irisan kenangan yang akan lama terindukan, sebab tahun itu PG Cepiring Bangkrut banyak tenaga musiman dan karyawan diberhentikan dan dirumahkan. Satu per satu karyawan yang meninggalkan perumahan berarsitektur  Belanda yang ada di lingkungan pabrik. Saat itu tinggal sedikit karyawan yang masih dipertahankan oleh manajemen pabrik untuk mengurus keberadaan pabrik yang tidak beroperasi lagi.
                Tak ada lagi kemeriahan dan wajah gembira para pekerja yang berangkat kerja diiringi derai suara Singal, tak ada lagi Langes dan bahkan ribuan ton rel kereta api  peninggalan Belanda milik PG Cepiring juga tak jelas kemana larinya, kami kembali merindukan Lokomotif berwarna hijau yang rajin mengeluarkan jeritan Nguik nguiknya  ketika mengangkut  puluhan lori tebu, kami para bocah saat itu senang sekali menumpang di Lokomotif hijau itu, favorit saya adalah Loko  nomer 9 , mengingatkan saya pada Michel Platini pesepak bola Brilliant dari Prancis,sementara mas Henggar dan mas Untung dua sepupu saya suka nomer 6, tanpa aku tau alasannya. Perjalanan menumpang loko itu jelas penuh resiko,kami bertualang menjelajah desa kearah Desa Gemuh, Pegandon, Putat, hingga Kendal kota ditemani semilir angin pembakaran ampas tebu yang digunakan sebagai bahan bakar Loko hijau itu, menikmati nuansa pedesaan melihat bangau yang mencari kodok kecil diantara langkah para petani yang sedang menanam padi, sebuah memori yang  akan membekas seumur hidup nampaknya.
Setelah sekian lama tutup tak beroperasi  Tahun 2008 PG Cepiring  resmi beroperasi lagi, namun  jika dulu tradisi Wiwitan  menjadi momen berharga, megah dan juga kebanggaan, kini hanya tinggal kenangan.  Wiwitan di tahun 2008 ini digelar di lokasi yang sangat sempit yaitu di lapangan sepak bola  miris karena ibarat petinju turun dari kelas berat menjadi kelas ringan, bahkan super ringan, ibarat penyanyi yang terbiasa pentas di Las Vegas kini harus berdendang di  panggung Tarkam alias antar kampung,  lebih  memprihatinkan lagi Wiwitan yang dulu adalah pasar Rakyat di tahun itu berubah jadi ajang bisnis remeh temeh pihak pabrik gula yang kini dikuasai oleh swasta, lokasi dipagari terpal rombeng  dan harus membayar karcis Rp 3.000/ orang untuk bisa memasuki lokasi. Inilah realitas yang barangkali bagi kalangan berada tak begitu berarti. Namun bagi kalangan rakyat kecil  untuk menyaksikan sebuah tradisi yang dibanggakan itu harus dibebani biaya.

                      Pelaksanaan Wiwitan  di bulan juli 2009 sudah mulai ada perubahan , warga sudah tak dipungut biaya lagi , tak ada terpal rombeng yang menurunkan kelas Wiwitan sebagai tontonan megah rakyat Kendal,  pergelaran wayang kulit pun digelar, namun inilah mungkin kesalahan fatal dari pihak PG Cepiring,entah berkaitan atau tidak, setelah nanggap wayang ini direktur utama PG Cepiring lengser dari jabatannya,  syahdan  menurut mitosnya di Cepiring adalah tempat yang  konon pamali untuk nanggap wayang kulit, menurut Mbah Sastro Atmojo mantan Lurah Cepiring  yang mengalami masa masa penjajahan dan mulai jadi Lurah di era orde lama dan sempat menjabat di era orde baru, pernah suatu ketika  ada juragan menggelar acara wayang kulit, tak lama ada badai dan angin ribut menghantam desa ini, sejak saat itu tak ada lagi yang berniat menanggap wayang kulit, sebagai gantinya kesenian tradisional Barongan yang tergabung dalam grup PBKC alias Persatuan Barongan Kelurahan Cepiring semakin eksis dan berkembang,  namun sayangnya Media massa yang secara masiv menayangkan perhelatan itu baik TV ataupun Koran hanya fokus masalah prosesi arak arakan penganten tebunya, tanpa ada esensi mengulas betapa tradisi ini sudah melekat di benak warga Cepiring selama puluhan tahun.
                 Namun perlu dihargai upaya PG Cepiring dalam kurun waktu terakhir ini selalu mengadakan acara Wiwitan setiap tahunnya, hal ini sejalan dengan pemikiran Bupati Kendal   Dokter Widya Kandi Susanti yang terkenal peduli pada seni dan budaya pernah mengatakan bahwa Kultur Budaya adalah kewajiban kita untuk melestarikannya ,jangan sampai hanya tinggal cerita saja , terlebih Wiwitan PG Cepiring dengan pengantin tebunya , itu tradisi yang tak dipunyai oleh negara lain, kekayaan budaya Kendal dan bisa menjadi wahana wisata yang unik, sangat ironis jika kita meninggalkan dan melupakan tradisi adiluhung ini .”Saya Apresiasi PG Cepiring yang sudah berupaya melestarikan budaya  dan tradisi Wiwitan  ini” papar Bupati Kendal ini kepada penulis. (Aryo Widiyanto.Penulis adalah Redaktur Majalah Bhara Mitra Bahurekso Media Kemitraan Polres Kendal, pengamat Seni dan Budaya Kendal, Lahir di Kendal 1977)   

Rabu, 20 Februari 2013

Selamatkan Asam Jawa di Kendal



Selamatkan Asam Jawa di Kendal


Asam Jawa  (Tamarindus Indica) adalah tanaman yang berasal dari Afrika, terutama dari Sudan, tumbuh liar dan juga terdapat di Kamerun, Nigeria dan Tanzania, di Arab Asam berkembang liar di Oman, khususnya Dhofar, dimana dia tumbuh di kaki gunung yang menghadap ke laut.
Ketika penyebarannya mencapai Asia Selatan melalui jalur transportasi manusia dan dipanen selama ratusan tahun Asam didistribusikan sepanjang sabuk tropis, dari Afrika sampai Asia Selatan, Australia Timur dan sepanjang Asia Tenggara, Taiwan dan China.sampai sekarang Asia Selatan dan Mexico adalah konsumen dan produsen pohon dan buah Asam paling besar sedunia.
Pohon Asam berumur panjang, tumbuh melebar dan rindang,daunnya selalu hijau ,tunasnya hijau muda cerah, buahnya berwarna hijau jika masih muda namun berubah jadi coklat tua saat masak yang digunakan sebagai bumbu kuliner ,pengobatan .dan semir metal diseluruh dunia, kayunya bisa digunakan untuk bahan bangunan, tingginya bisa mencapai 12 sampai 18 meter (40-60 Feet) berkembang bagus di daerah yang penuh sinar matahari, tanah liat , berlempung, berpasir dan tanah yang mengandung kadar asam, serta pantai karena dia tahan garam.
Konon secara Etymologi, penyebutan Tamarind  (Bahasa Inggris untuk Asam-Pen) adalah berasal dari Bahasa Arab Tamr Hindi yang berarti “kurma dari India” beberapa ahli herbal di masa awal peradaban menulis Tamar Indi, terjemahan Latin menggunakan Tamarindus dan Marcopolo menulis Tamarindi.
            Di Kabupaten Kendal sendiri Asam Jawa di sekitar medio 80 an masih sangat banyak dijumpai di sepanjang Jalur Pantura mulai dari Weleri hingga Kaliwungu, namun Asam Jawa menjadi hampir punah karena  adanya penebangan yang dilakukan pemerntah guna keperluan pelebaran jalan, sisa sisa pohon Asam yang ada di tahun 2013 ini masih terlihat di sekitar Kaliwungu di pinggir jalan tepatnya  di sebelah barat pertigaan Sekopek dideretan penjual onderdil motor bekas.
            Kepunahan Asam Jawa juga diikuti dengan hampir ludesnya Pohon  Cemara Angin yang dulu berdampingan menghiasi jalan Sriagung dari Cepiring Hingga Kecamatan Gemuh sekitar tahun 1980 jalan Sriagung menjadi favorit bagi warga untuk jalan jalan pagi menghirup segarnya udara karena pepohonannya rapat dan indah terdiri dari barisan hijau mudanya pohon Asam Jawa didampingi Hijau tua segarnya semilir angin yang diciptakan lambaian surai daun Cemara , sungguh romantis jika mengingat jaman itu, berbanding terbalik dengan nuansa sekarang dimana pohonnya sudah campur aduk tak tertata lagi, konon menurut mantan Lurah Cepiring Almarhum Mbah Sastro Atmojo , Cemara Angin dan Asam Jawa ini sudah ada sejak dirinya kecil, berarti jaman Belanda mengingat saat beliau bercerita usianya sudah sekitar 70 tahun di tahun 1988 an. Lurah yang menjabat sejak jaman Orde lama hingga sekitar orde reformasi itu mengatakan bahwa Cemara dan Asam Jawa ditanam Belanda selain untuk memperindah estetika /keindahan konon juga untuk memperkuat Aspal yang dibuat oleh Belanda terutama di jalan Daendels/sekarang Jalan Pantura, dan jalan pendukung pergerakan pasukan dan logistik seperti jalan Sriagung, Jalan Patebon dan sekitarnya, namun khusus untuk jalan Pegandon mbah Lurah mengatakan tanamannya adalah pohon Trembesi.

            Saat ini tahun 2013, banyak terjadi modus penebangan secara perlahan terhadap asam Jawa baik disengaja maupun tidak oleh orang tak bertanggung jawab, caranya dengan membakar ranting kering ataupun jerami padi yang sudah tak terpakai dibawah pohon Asam sehingga kelamaan daun Asam akan jadi kering batangnya berongga dan mati, batang pohon yang mati itu secara beramai ramai dijadikan kayu bakar , sebuah tindakan bodoh tanpa mengingat sejarah dan lamanya pohon itu tumbuh besar dan berkembang.
            Dibutuhkan sebuah langkah penyelamatan tersendiri dari pemerintah untuk menyelamatkan kekayaan hayati tersebut, semoga kedepan anak cucu kita masih bisa menyaksikan keindahan pepohonan tua itu, tak hanya menyaksikan lewat flickr atau media internet dan buku sejarah.(Aryo Widiyanto Jalan Sriagung 234 Cepiring Kendal Jawa Tengah 51352)tgl 21 februari 2013

Minggu, 17 Februari 2013

SMK 2 Kendal serbu SMA I Cepiring,Nyaris terjadi tawuran .



SMK 2 Kendal serbu SMA I Cepiring,Nyaris terjadi tawuran .


                Siang itu Jumat 15/2 sekelompok pelajar dari SMK 2 Kendal tiba tiba menyerbu Gedung SMA I Cepiring yang dipenuhi para pelajar jelang bubaran sekolah, tak hanya berteriak teriak, para penyerbu itupun memecahkan dua  lampu taman halogen berbentuk bulat  dengan menggunakan benda keras , para guru SMA Cepiring  yang mencoba menenangkan keberingasan siswa SMK itu menjadi sasaran kemarahan, tanpa memperdulikan etika dan kesopanan guru Bimbingan Konseling Endang Ratri S.Pd dibentak dan hampir ditabrak dengan menggunakan sepeda motor oleh para penyerbu , sontak timbul kepanikan dari sejumlah siswi SMA Cepiring.tak ada korban luka dalam kejadian itu namun beberapa murid perempuan SMA tersebut mengalami shock dan trauma.
                Ditengah kepanikan itu langkah sigap diambil oleh Kapolres Kendal AKBP Asep Jenal Ahmadi yang menerima laporan dari masyarakat langsung menerjunkan satu tim khusus dari Polsek Cepiring   yang dipimpin oleh Kapolsek AKP Asri menghalau para siswa SMK 2 Kendal sehingga peristiwa tawuran tak berlanjut meluas.
                Dari keterangan berbagai sumber yang berhasil dihimpun oleh penulis, kejadian tawuran ini dipicu awalnya dari pertandingan Futsal antara SMK 2 Kendal dan SMA Cepiring , dalam pertandingan tersebut konon ada sedikit kesalahpahaman antar pemain , namun ketika kedua tim sudah melanjutkan pertandingan malah  para supporter yang memanas dan berujung pada kericuhan diluar lapangan.
                Plt Kepala Dinas Pendidikan Kendal Muryono S.Pd mengatakan bahwa langkah strategis sudah dilakukan oleh pihaknya, Kedua kepala sekolah sudah berkoordinasi untuk antisipasi efek lanjutan dari peristiwa tadi, hari Sabtu 16/2 Tim dari Dinas Pendidikan dan Polres turun untuk mengkondusifkan situasi.

                Hingga Jumat malam petugas dari Polsek di back up penuh oleh Dalmas Polres Kendal  masih menjaga gedung SMA I Cepiring guna antisipasi hal yang tak diinginkan, Kepala Sekolah SMA I Cepiring yang coba dikonfirmasi  wartawan juga tak berhasil  ditemui, hanya ada seorang guru dan penjaga malam yang tampak di komples sekolah tersebut.(Aryo Widiyanto)
               


Jumat, 15 Februari 2013

Budaya Jawa Unik ,“Demarenen” Ketika sang anak sakit menyambut bayi di keluarganya.



“Demarenen” Ketika sang anak sakit menyambut bayi di keluarganya.



 

                Budaya Jawa utamanya Jawa Tengah terkenal dengan sesuatu yang terkadang tak bisa dinalar oleh logika pada umumnya, bahkan terkadang  ilmu medis modern masih sulit mencernanya  ketika fakta menunjukkan kesembuhan seseorang  bisa  dicapai melalui hal yang berbau kepercayaan terhadap tradisi, mistik dan sangat berakar pada budaya.
                Contohnya adalah sebuah fenomena medis bernama “Demarenen” yaitu sebuah penyakit berupa panas tinggi pada anak, kadang disertai rengekan dan rewelnya sang buah hati, anehnya walaupun sudah diperiksakan ke dokter ataupun Puskesmas terdekat ternyata tak kunjung sembuh juga malah semakin menjadi.
                Biasanya para Ibu di Jawa Tengah khususnya di  Kabupaten Kendal  saat dihadapkan pada situasi ini akan segera “Instrospeksi”  dan mencari siapa diantara adik, kakak, atau keluarga baik dekat maupun jauh  yang sedang hamil .
                Menurut kepercayaan mereka sakitnya sang anak adalah karena dia sedang menyambut sang jabang bayi di keluarga besarnya, dan tak ada langkah medis yang mampu menyembuhkannya, salah satu cara penyembuhannya adalah dengan mendatangi sang kerabat yang sedang hamil tersebut kemudian si sakit dimintakan air untuk diminum, atau dimandikan oleh kerabatnya yang hamil itu, serta ketika pulang sang Ibu dari anak yang sakit itu meminjam selimut, atau   kain yang dipakai tidur oleh si hamil, aneh bin ajaib , Tuhan memberi kesembuhan dengan cara yang unik dan Demarenen pun sirna dalam satu atau dua hari.
Seorang Ibu yang tengah hamil memberikan air untuk diminumkan kepada anak kerabatnya yang terkena "Demarenen"
                Demarenen adalah salah satu fenomena alam sekaligus budaya yang tak lekang oleh waktu , hingga tahun 2013 ini budaya penyembuhan unik ini masih berjalan dan dengan mudah kita jumpai di wilayah Kabupaten Kendal, Dokter Widya Kandi Susanti MM.CD  Bupati Kendal yang sekaligus juga sebagai praktisi medis dan pemerhati budaya mengatakan inilah uniknya budaya di Kabupaten Kendal , “ Perawatan medis tradisional  yang dilakukan sejak jaman nenek moyang masih lestari , dan masyarakat menganggapnya sebagai salah satu kekayaan khasanah kearifan tersendiri berdampingan serasi dengan medis modern ,saling melengkapi ” papar dokter Widya.(Aryo Widiyanto)