Senin, 27 Oktober 2014

Ada Musik cantik di Stasiun Kereta.

Ada Musik cantik di Stasiun Kereta.


Berbagai terobosan dilakukan untuk pembenahan kinerja dan pelayanan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) dimasa kepemimpinan Dahlan Iskan sebagai Meneg BUMN dan Ignatius Jonan sebagai Direktur PT KAI, diakui atau tidak, prestasi Jonan di bidang perkereta  apian inilah yang mengantarnya diliri dan akhirnya menjadi  Menteri Perhubungan di era Jokowi  jadi Presiden RI.



Diantara berbagai terobosan yang dilakukan Jonan diantaranya menciptakan sistem dimana tak ada orang yang tak berkepentingan masuk ke area peron KA, setiap calon penumpang diwajibkan menunjukkan KTP yang masih berlaku untuk dapat masuk area pemberangkatan KA, alhasil tak ada copet, tak ada pengasong dan jelas menekan angka komplain dari pengguna jasa.
Beberapa hari lalu atas undangan dari Pak Widhioseno bos  saya yang dinas di Bandung, saya mencoba untuk kembali bernostalgia mengenang kembali  nuansa khas naik kereta api dari Stasiun Tawang menuju stasiun Kota Bandung, terbayang klasiknya suasana kereta api yang dulu pernah saya  rasakan.

Beberapa perubahan nampak jelas terjadi dimulai dari pemesanan tiket online yang bisa dilakukan di Alfamart dan Indomaret, sayangnya ketika saya mau pesan bertepatan dengan ritual PLN Mati lampu sehingga terpaksa saya datang langsung ke Stasiun Tawang .

Di Stasiun Tawang saya masih mendapatkan tiket KA Harina dengan jadwal keberangkatan sekitar jam setengah sepuluh malam, dan ketika sambil menunggu kereta datang dan masuk area loby stasiun, saya melihat sebuah pertunjukan musik live tepat disamping  kanan saya duduk, serombongan pemusik dengan dandanan sederhana namun berkesan elegan nampak sedang memainkan alat musiknya dengan tempo sedang berirama Keroncong, menakjubkan, tak pernah terbayangkan sebelumnya, tak ayal kameraku  menari mengelilingi mereka, berbagai sudut tak terlewatkan, saya seperti mimpi berada di balkon Societet D’Opera jaman Belanda, kesan Gothic sangat terasa dimana bangunan stasiun yang berarsitektur Belanda disiram alunan musik klasik ala Jawa, mengagumkan.

Nama grup Keroncong itu adalah Gunung Jati Keroncong Music , entah dapat inspirasi dari mana nama itu, menurut mas Hendy sang punggawa pemegang biola, dirinya bermain sudah Delapan tahun di dunia Keroncong namun baru beberapa waktu saja diijinkan menggelar orkestrasi mini di loby Tawang ini, setelah berbincang sejenak dan menikmati alunan lagu bertajuk Widuri, Demi Kau dan Si Buah Hati, Aryati, Boulevard, Feelings dan sejenisnya, saya melangkah menuju ke dalam kereta Harina dan menikmati perjalanan.

Nyaman sekali berada dalam perjalanan dari  Semarang ke Bandung, dalam kereta pelayanan jauh berbeda dengan dua atau tiga tahun lalu , terasa lebih cozzy dan homy, tak ada asongan yang lewat namun diganti dengan makanan dan minuman yang ditawarkan oleh Pramugari kereta berseragam biru nan cantik (Ssst nama pramugarinya mbak Nova dan Mbak Sari...catat), makanan dan minuman itu tak gratis bro, harus bayar, namun murah kok, gak jauh beda dengan harga di Asongan, standarlah.

                Sesampai di Bandung  saya segera menyelesaikan segala sesuatunya yang berkaitan dengan pekerjaan antara bos dan saya, berjalan jalan sehari di Paris Van Java ,dua malam berikutnya saya pulang lagi ke Semarang kembali menggunakan jasa kereta Api Harina, tau apa yang saya temui di stasiun Kota Bandung jelang saya kembali?, ternyata di Stasiun Kota Bandung juga menyajikan live music, Cuma bedanya di Bandung musiknya lebih ber genre muda, dan terlihat para calon penumpang dan sejumlah bule yang ada antusias menikmati suasana sejuk dihangatkan oleh para musisi muda  itu, kemajuan PT KAI tak hanya melulu berkisar di tegaknya peraturan, administrasi dan pelayanan, namun PT KAI juga berinovasi di bidang budaya, ciamik tenan. 

(Aryo Widiyanto, Traveller , Backpaker, Photograper, Blogger dan Jurnalis serta buruh Negara yang tinggal di 087747970200, Fesbuk :Aryo Widiyanto )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar