Sabtu, 26 September 2015

Diplomasi Kopi



Diplomasi Kopi

                Sebenernya dulu  saya tidak begitu menyukai kopi , sejak kecil malah kakak sepupu saya mas Henggar Warsito yang  maniak dengan apa yang dulu kami sebut  barang hitam pahit tapi nikmat itu, saya ingat saat mau berangkat sekolah saya pilih Milo sebagai bekal tapi mas Hengky itu sibuk menyeruput kopi sampai ke ampasnya.

                Seiring perjalanan jaman mungkin level suka saya pada kopi hampir sama dengan sukanya saya pada Milo, ada berbagai sebab, karena pergaulan yang mengharuskan saya berbincang hingga malam dengan kolega, atau kadang kopi menjadi suguhan ketika bertamu.

                Ada beberapa manfaat  yang saya dapatkan dari “Berdiplomasi” dengan Kopi sebagai penengah, misalnya saja saat deadlock penentuan harga sebuah item, saya sengaja membelokkan pembicaraan kearah kopi apa sih yang disukai lawan diskusi saya, beberapa termakan isu yang saya lemparkan, tak terkecuali yang tak suka kopi, biasanya yang tak suka kopi panas lebih suka “Cold Brew” yaitu kopi dingin dengan berbagai tambahan varian rasa, ada juga yang lebih memilih Irish Coffee karena mungkin kulturnya memang suka dengan yang hot.

                Beberapa spot yang enak untuk berdiskusi ringan, membicarakan usaha, atau lebih ke pendekatan secara dagang adalah di  Loby  Kolam Renang Tirto Arum Baru Kendal, tempatnya nyaman , sejuk, ada pemandangan langsung ke kolam renang, Loby yang juga difungsikan sebagai kantin dan kafe ini memang dirancang untuk  tempat semacam smalltalk, little meeting artinya orang datang dan pergi sesuka hatimu (Yaah malah kayak lagu jadul narasiku).

                Beberapa kali saya berbincang dan menghasilkan sedikit pemasukan untuk dompet saya di Tirto Arum ini, hoki juga kali seeh, tapi coba deh, kapan jika ada luang mampir ke Tirto Arum yang terletak di jalan Sukarno Hatta Kendal, buka sampe jam 11 malam bray. Oke ya aku pulang dulu, have a nice day with your coffee. 
 ( Aryo Widiyanto, Journalist,   Traveller , Backpacker, Photographer, Blogger di aryowidiyanto.blogspot.com. Twitter di @aryowidi dan Abdi Negara, Facebook :Aryo Widiyanto)
               

Jumat, 25 September 2015

Selamat Ultah ke 205 Bandung



Happy  Aniversary Bandung !!


Hari Jadi Bandung yang ke 205 jatuh di tanggal 25 September 2015, ada banyak catatan saya tentang kota ini, luar biasa banyak.
            

Sejak muda sebenarnya saya sudah akrab dengan kota ini, saat mahasiswa dan aktif di organisasi pemandu wisata, saya yang waktu itu masih bujang sudah akrab dengan keindahan dan keramahan Bandung, teringat waktu itu kami berombongan sebagai delegasi dari Dinas Pariwisata Provinsi Jateng menginap di mess Pusat Persenjataan Infanteri  (Pussenif)  malamnya kami hangout di Bandung Indah Plaza (BIP)  Damn great memoriest.





Terakhir saya ke Bandung adalah saat diundang bos saya Pak Dosi dan Bu Shinta saat beliau masih dinas di Padalarang, saya  kembali  menyusuri kota Bandung yang bersih, segar dan rimbun dengan pepohonan besar,  jalanan kota Bandung sebagaimana pernah saya lihat beberapa tahun lalu masih tetap bersih dan terawat, sepanjang jalan ada petugas dari pemerintah yang berpakaian Wearpack oranye menyapu dan membawa tempat sampah besar warna biru, halte bus pun bersih, halaman perkantoran dan pertokoan tampak menyediakan tempat sampah ukuran besar.


            Satu hal yang menjadi catatan saya bahwa Bandung merupakan  salah satu kota yang ramah pelajar salah satunya adalah ketika pagi itu sebuah bus berukuran besar berwarna kuning cerah bertuliskan besar “Bus Sekolah” melintasi jalanan, saat ada beberapa pelajar yang berdiri di pinggir jalan , kendaraan ini sigap menepi dan mengangkut  anak sekolah itu, pemandangan yang  unik mengingat jaman sekarang bus sekolah jarang ada di sebuah kota.


            Surga ketika menginjakkan kaki di Bandung adalah keberagaman makanannya, mulai dari Bubur Ayam sampai Brownies digelar sepanjang waktu, banyak pedagang buka hingga tengah malam, disini sepertinya semua makanan laku terjual, bahkan Tahu Kuning diberi cocolan Kecap saja diserbu pembeli, memang menyenangkan makan ditengah hamparan jalanan yang bersih, penduduk yang ramah, dan harga makanan yang relatif terjangkau.  hmm..sebuah kota yang potensial untuk bisnis kuliner

            Menjelang malam tiba, suasana riuh menyelimuti dinginnya udara, di seputaran Gedung Sate, Gasibu, atau didepan BIP, dan jalan Asia Afrika, banyak rombongan keluarga,  anak muda atau yang hanya sekedar hangout sambil menikmati malam, tertib suasananya, tak ada sesuatu yang membuat kita pantas khawatir, menyenangkan sekali, pantaslah kota ini dijuluki Paris Van Java, coz It’s so romantic being here.

            Hari kedua, ketika semua kegiatan sudah selesai saya diberi bonus one day tour oleh bos, saya memilih ke Saung Angklung Mang Udjo, sebuah pertunjukan tradisional khas Sunda yang ada di Padasuka dekat Cicaheum,  tepatnya di jalan Jl. Padasuka 118 Bandung,
Di Usia yang ke 205 ini dibawah kepemimpinan Kang @ridwankamil, saya berharap Bandung teteup aman , nyaman , sejuk dan cantik, sayang ya kang kemaren di twitter ada berita penyanyi Sherina dipalak geng motor di Cihampelas, padahal setau saya teh Cihampelas mah aman , kumaha atuh kang ridwan kamil? 
Aryo Widiyanto, Journalist,   Traveller , Backpacker, Photographer, Blogger di aryowidiyanto.blogspot.com. Twitter di @aryowidi dan Abdi Negara, Facebook :Aryo Widiyanto

Selasa, 22 September 2015

Sebuah Kisah Persahabatan

Sebuah Kisah Persahabatan

    Bagi sebagian orang , tentara adalah sosok yang menakutkan, seragam kamuflasenya, tampang garang, dan pembawaan yang serba tertata membuat segan dan bahkan ada menjauh.

    Bagi saya tentara membawa sejumlah kenangan, ada berbagi kisah disana, affair? Haha, It could be.

    Serius, kita cerita yang ringan saja, gak usah pake intrik politik atau apalah apalah, landai, banyak sahabat saya yang berawal dari “pertempuran ” dulu, maksudnya awalnya bermusuhan kemudian jadi sahabat karib bahkan jadi saudara.

    Yang saya ingat hingga sekarang adalah perjalanan saya berawal dari perkenalan dengan Mayor Santo dan Kapten Untung dari Penerangan , awalnya kami bertarung di ranah jurnalistik, saya sempat meradang karena karya saya ditayangkan di majalah mereka tanpa saya ketahui, berdebat, adu urat bahkan saya minta mereka mundur dari jabatan, namun akhirnya kami berdamai, tak ada uang bermain disini, murni damai, berkawan, saling membagi job, dan saya malah akhirnya berkarya menulis dan menekuni fotografi melalui majalah para sahabat itu.

    Lalu , saya berkenalan dan menjadi salah satu sebut sajalah anak buah dari seorang yang waktu itu berpundak melati dua, pak Dosi, sama menariknya, saya awalnya juga “rusuh ” dulu dengan anak buah beliau, saya merasa benar, makanya tidak mundur, waktu itu saya masih muda jadi tidak memikirkan hal lain kecuali saya bertanding terbaik, pak Dosi bijak dan hingga kini saya masih silaturahmi dengan beliau, ada kenangan tak terlupakan saat beliau mengajak saya untuk ikut membantu memotret saat ada operasi lintas laut di pesisir pantai utara Jawa, saya kira naik perahunya sebentar seperti saat memancing atau menjelajah sungai, di awal keberangkatan saya masih nggaya seolah saya Leonardo Di Caprio yang hendak menemui Kate Winslett di Titanic, tapi Damn..., ternyata yang saya naiki perahu Cantrang, taulah, dengan asap dari knalpot pembuangan bahan bakar solarnya itu saja sudah membuat perut saya mual di 10 meter pertama cantrang itu melaju.

    Mabok laut itu sepuluh kali lebih menderita daripada mabok naik mobil, beda urusan cong  ma mabok cinta atau mabok Red Label, kronologi mabok laut yang saya alami pertama nih, sepertinya laut jadi sangat berbau asin, seperti garam dicolokin ke hidung, bau solar jadi bumbu ampuh menambah pusing pala beib, melihat ikan melompat lompat riang disepanjang gigir perahu gak lagi ada indahnya deh, terakhir saking gak kuatnya, semua makanan dan cairan lompat terjun bebas ke laut dari tenggorokan, dan, tidur beralaskan jaring penjala ikan pun jadilah, pak Dosi sempat menoleh dan ngetawain..” Mabok lu mas. ?” tanya beliau, saya sudah tepar abis  gak bisa jawab hingga ditandu tentara saat mendarat di Pantai Sikucing.

    Ada lagi beberapa yang akrab hingga kini seperti pak Bonifacius AW yang putranya sempat les bahasa inggris beberapa semester dengan saya, pak Tyas dan Bu Nana, Pak Erwin Rustriyawan, dan sebagainya.

    Ada juga cerita saat saya ikut acara panen Bandeng disalah satu tambak milik seorang loreng  di daerah Cepiring, waktu itu saya berangkat jam 4 Sore dengan Serda Ridho dan Serda Majuri, duo militer yang hobi juga perikanan, naik sampan menelusuri sungai dan sampailah kami di tambak yang dituju, membakar ikan, makan sayur yang saya gak tau namanya tapi enak karena lapar dan tak ada makanan lain, tidur dibawah mangrove nyamuknya kalo nyipok gak hilang dua hari, ada beberapa ilmu yang saya dapatkan diantaranya ternyata untuk panen tambak Bandeng butuh waktu semalaman, baru keesokan harinya panen rampung dan saya bersama dua rekan itu memanggul ransel penuh Bandeng, bedanya saat pulang kami jalan kaki melewati pesisir Laut Jomblom, saya juga belajar untuk tidak bergurau dan percaya diri berlebihan, ceritanya gini, saat melewati perlintasan antara tambak dan sungai, ada sebuah jembatan, saya sangat yakin bisa melewati titian dari bambu itu makanya saya biarkan dua sersan itu duluan “ Udaah sampeyan lewat duluan, hati hati, kepleset ntar, dijaga tuh body doraemonnya jangan sampe kantong ajaib nyebur ke sungai ” teriak saya sambil ngakak, karena saya percaya diri saja, yang termuda dan (ehm) terganteng dan bodynya agak bisa dipandang di tempat itu adalah saya, yaah 11 12 dengan Brad Pitt lah, oke,  satu orang bisa lewat, yang kedua selamat, giliran saya nyebrang, sepatu booth Caterpillar saya nyangkut kesandung  ijuk pembatas titian jembatan bambu , alhasil tubuhku  seberat 98 Kg gedabakan ambyur ke sungai diiringi hiruk pikuk dua tentara yang gantian ngakak ngetawain. Rusuh.

    Bergaul dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja merupakan sebuah seni tersendiri, namun ada satu yang saya ingat,tentara lebih punya setia kawan tinggi, berpisah puluhan tahun itu biasa dan kita pasti dianggap keluarga dan saudara jika sudah mengenal mereka, so, tentara adalah sahabat, cobalah berkawan dengan mereka

(Aryo Widiyanto, Journalist,   Traveller , Backpacker, Photographer, Blogger di aryowidiyanto.blogspot.com. Twitter di @aryowidi dan Abdi Negara, Facebook :Aryo Widiyanto)

Merasakan Ingkung Ayam Langganan Keraton di RM Ulam Sari Salatiga.



Merasakan Ingkung Ayam Langganan Keraton di RM Ulam Sari Salatiga.

                Daging ayam bagi sebagian orang adalah hal biasa, setiap saat tersedia di kulkas atau kini ada juga yang instan, namun pernahkan anda merasakan sensasi merasakan dan menikmati Ingkung yaitu sebongkah ayam utuh mulai dari Kepala Hingga kakinya yang dibumbui ala Jawa? Jika belum mampirlah di RM Ulam Sari Salatiga yang terletak di Jalan Raya Lopait Tuntang Salatiga Jawa Tengah.

                Rumah makan ini didirikan sejak tahun 1947, andalan utama menunya adalah Ingkung Ayam yang sudah kondang menjadi langganan para pejabat baik militer ,polisi, konon keluarga Keraton dari Jogja dan Solo hingga sejumlah instansi  memesan hingga ratusan dus jika ada acara di lingkungan mereka.


                Penasaran ingin merasakan Ingkung  itu, saya dan seorang rekan mencoba untuk mendatangi RM Ulam Sari, gampang untuk mengaksesnya karena terletak persis di pinggir jalan Lopait Tuntang Salatiga, tempat parkirnya enak, lapang dan luas, masuk kedalamnya nuansa modern langsung terasa, lantai dan ruangannya bersih  tertata rapi,  kursi teratur bagus, diseberangnya nampak deretan rak berisi aneka jajanan dan oleh oleh khas Jawa Tengah seperti Wingko, Jus Carica Dieng, Getuk Magelang dan aneka ragam lainya tersedia untuk para pelancong dan turis yang membanjiri Salatiga tiap akhir pekan.

                Sembari menikmati suasana, datanglah pesanan Ingkung Ayam Kampung yang dari tampilannya saja sudah menerbitkan selera, satu ayam utuh matang digoreng  welldone, berwarna coklat keemasan  dengan garnish sayuran segar seperti Krai atau Mentimun Jawa, daun kemangi, selada serta dua macam sambal yaitu sambal merah dan sambal Lombok Galak  serta nasi putih harum  mengepul berada dijangkauan mulut kami yang tak sabar.

                Saya memilih memotong satu paha dari Ingkung ayam kampung itu, aromanya khas tidak seperti ayam pabrikan, ada yang membedakannya yaitu ayam kampung tidak berlemak, dagingnya kenyal alami dan ada rasa manis gurih didalam otot dan dagingnya, daging ayam  dicolok dengan sambal lombok galak dan ditambah daun kemangi serta irisan Krai  dan sesuap nasi hangat begitu masuk mulut dan dikunyah enaknya bikin mata merem melek, selanjutnya seperti tak terasa sepiring nasi dan sebongkah ingkung tandas .

                Menurut Bu Yani pemilik RM Ulam Sari, Ingkung  ayam kampung yang disajikannya adalah murni berasal dari para penjual yang berasal dari desa sekitar, “ Selain memberdayakan warga kami juga senantiasa menjaga kualitas, tidak sembarang ayam kami terima, hanya ayam kampung yang memenuhi  spek dari ukuran hingga taksiran umur yang kami jadikan Ingkung, karena pelanggan pasti bisa merasakan beda antara ayam kampung yang berkualitas dan yang asal asalan, kai mengutamakan kualitas dan rasa” papar wanita mantan pimpinan sebuah Bank nasional yang memilih menjadi pengusaha ini.

                RM Ulam Sari juga menerima pesanan Ingkung untuk luar kota seperti Semarang, Kendal, Magelang, Jogja Solo bahkan Jakarta , “Selain Ingkung Ayam Kampung, kami juga sedia nasi box dengan aneka lauk pauk untuk pertemuan atau meeting, silahkan hubungi di nomer kami untuk pemesanan di 082133866878“ Tuturnya.

( Aryo Widiyanto, Journalist,   Traveller , Backpacker, Photographer, Blogger di aryowidiyanto.blogspot.com. Twitter di @aryowidi dan Abdi Negara, Facebook :Aryo Widiyanto)

               
               

Minggu, 20 September 2015

Cinta Kereta Api Indonesia



Loves Train Much


            Beberapa alat transportasi disediakan di negeri ini, namun saya lebih nyaman memakai Kereta Api (KA) sebagai sarana untuk bepergian, saking senengnya, tiap kali dapat tawaran dolan atau sedikit ada kerja di luar daerah, pasti yang pertama saya tanyakan adalah apakah saya bisa menjangkaunya dengan KA.


            Saya sedang tak ingin mengkritik pemerintah atau PT KAI, karena dibawah Menhub pak Ignatius Jonan, semua yg menyangkut KA di Indonesia  is well done, bagus banget.

            Naik Kereta Api adalah sebuah seni tersendiri, mulai dari pesan tiket , menunggu si hitam manis itu datang sembari melihat pemandangan di Stasiun yang ciamik lengkap dengan para penumpangnya yang beraneka ragam, saya sih suka melihat wanita cantik bersepatu booth dengan jeans biru agak belel menarik kopernya sembari sesekali melihat hape, atau ada juga pemandangan anak kecil yang sibuk dengan es krimnya tapi raut wajahnya tak sabar menanti kereta datang, atau seorang wanita dengan seragam militernya yang seperti sedang menunggu seseorang di peron, hmm..damn great memoriest.

            Didalam kereta, saya suka naik KA Harina Bandung Semarang atau sesekali apalah namanya yang dari Jakarta ke Semarang itu, nyaman, tak ada asap rokok, tak ada pengamen, atau penjual makanan , tahun belakangan ini semua kereta bersih  dari gangguan , beda dengan dulu saat pertama ke Jakarta naik KA sekitar tahun 90 an, jorok, semrawut, sekarang oke aja, enak.

            Sembari melihat pemandangan di sekitar , paling bagus sih menurut saya pemandangan perjalanan dari Semarang ke Bandung, pemandangannya segar, banyak hal yang bisa dilakukan seperti saat berhenti sejenak di sejumlah stasiun kecil kemudian kita lompat turun dan memotret dinamika yang ada, atau hanya melihat dari atas kereta bagaimana sih bentuk rumah masyarakat di sekitar stasiun kecil itu, berbeda nuansa dan aroma disetiap tempat yang kita singgahi, dan itu adalah kenangan.

            Suatu masa nanti mungkin saja kereta api bisa menjadi moda transportasi murah untuk rakyat sehingga mengurangi kemacetan di jalan akibat mobil yang semakin banyak dan menjejali jalanan, jika saja mimpi rakyat Indonesia mendapatkan akses kereta api yang mudah dan murah serta terintegrasi dengan alat transportasi lain minimal dalam satu provinsi  tercapai, tentu anak cucu kita kelak akan bisa tersenyum riang seperti cerianya wajah para penumpang KA di Jepang,London atau terdekat Singapore. Semoga , kita doakan, wah udah pagi nih, istirahat dulu , have a nice day ya. ( Aryo Widiyanto, Journalist,   Traveller , Backpacker, Photographer, Blogger di aryowidiyanto.blogspot.com. Twitter di @aryowidi dan Abdi Negara, Facebook :Aryo Widiyanto)