Senin, 02 Januari 2012

Operasi Militer Selain Perang TNI di Merapi


Operasi Militer Selain Perang TNI di Merapi
Pelibatan tentara yang notabene profesional dalam penanganan bencana bukan merupakan hal asing di dunia, berbagai contoh seperti penanganan evakuasi penduduk saat bencana bocornya reaktor nuklir di Fukushima Jepang atau bencana banjir di China,militer memegang peran sentral dalam ikut serta meringankan penderitaan korban bencana alam.
Di Negara kita, Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang mempunyai tugas pokok diantaranya yaitu menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 serta melidungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan Negara, disamping tugas pokok itu TNI juga aktif dalam membantu pemerintah dalam menanggulangi bencana alam , Adapun landasan perundangan bagi militer untuk berperan serta dalam penanggulangan bencana adalah TAP MPR no VII tahun 2002 ttg Peran TNI dan Polri Dijelaskan dalam pasal 4 ayat (1) tentang Tugas Bantuan TNI bahwa “TNI bertugas membantu penyelenggaraan kegiatan kemanusiaan (Civic Mission)”. Hal inilah yang menjadikan suatu kewajiban bagi TNI untuk menyelenggarakan suatu operasi kemanusiaan apabila terjadi terjadi bencana di Indonesia ,
Selain itu ada juga UU No 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Keamanan Negara, Dalam penjelasan Undang-Undang tersebut dijelaskan bahwa dalam pasal 10 ayat (3) “TNI bertugas untuk menyelenggarakan kebijakan pertahanan negara diantaranya ialah menyelengarakan Operasi Militer Selain Perang”. Sedangkan penanggulangan bencana merupakan operasi kemanusiaan yang merupakan bagian dari Operasi Militer Selain Perang sehingga suksesnya penanggulangan bencana yang diilakukan oleh TNI akan berdampak pada suksesnya implementasi kebijakan pertahanan negara secara keseluruhan,
Serta Undang Undang Nomor 34 tahun 2004 tentang TNI Pasal 7ayat 2 butir 9 dan 12 dimana Operasi Militer Selain Perang (OMSP) adalah untuk membantu tugas pemerintah daerah dan membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian dan pemberian bantuan kemanusiaan.
Salah satu dari berbagai peran TNI yang menonjol dalam OMSP adalah saat melaksanakan tugas kemanusiaan ketika letusan gunung Merapi beberapa waktu lalu, masih segar dalam ingatan bencana alam itu menimbulkan kerugian material dan hilangnya jiwa ratusan penduduk di sekitar gunung aktif tersebut.
Gerakan cepat korps baju loreng ini terlihat dengan pembentukan Satgas TNI Penanggulangan Bencana Merapi (Satgas TNI PB Merapi ) , data dari Pusat Penerangan TNI Satgas itu terdiri 1 SSY Batalyon Bekang Kostrad dari Malang, 2 SSY Batalyon Kesehatan Marinir dari Jakarta dan Surabaya, 1 SSY Batalyon Pasukan Khas TNI AU dari Madiun, dan 1 SSY Batalyon Infantery Kodam IV/Diponegoro.
Menyusul Satgas Kesehatan TNI yang terdiri dari para dokter umum dan spesialis serta petugas paramedis lainnya.
Satuan-satuan tersebut merupakan bagian dari Brigade Khusus yang dibentuk oleh Panglima TNI atas instruksi Presiden RI dalam rangka menanggulangi bencana Merapi yang semakin menyebar luas.
Brigade Khusus tersebut melaksanakan tugas-tugas penanggulangan bencana, diantaranya adalah pencarian dan penyelamatan serta evakuasi para korban, membangun berbagai fasilitas umum seperti dapur umum dan rumah sakit lapangan serta mengaktifkan kembali semua rumah sakit di sekitar daerah bencana. Brigade Khusus ini dipimpin langsung oleh Kasdam IV/Diponegoro dan bekerja dibawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Untuk menunjang mobilitas penanganan korban bencana dan menambah kebutuhan tenda-tenda pengungsian TNI juga mengirim 60 buah tenda peleton dan menyusul 40 tenda peleton lainnya ke wilayah bencana..
Sejumlah masalah dilapangan seperti aktivitas perekonomian rakyat terganggu, fasilitas umum rusak, lahan pertanian tidak produksi dan berbagai kegiatan wisata juga terhenti, warga di sekitar lereng Merapi membutuhkan dorongan moril dan semangat untuk kembali bangkit memulai kehidupan baru setelah tempat tinggalnya hancur di terjang awan panas dan diselimuti debu vulkanik Merapi. Kehadiran TNI selain membantu pemerintah juga dirasakan mampu memberi semangat warga agar segera bangkit kembali dan dapat beraktivitas seperti sedia kala dari keterpurukan akibat erupsi Merapi.
Melalui media massa bisa disaksikan berbagai kegiatan sosial kemanusian telah dilakukan oleh TNI tanpa pamrih, mulai dari evakuasi dan pencarian korban baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal meskipun dihadang hawa panas dan berbagai kendala fasilitas, pelayanan kesehatan masyarakat dan pendirian dapur lapangan di tempat-tempat pengungsian, sekolah darurat dan hiburan bagi anak-anak pengungsi, evakuasi ternak, pembersihan fasilitas umum, perkuatan tanggul dan pengerukan sungai yang berhulu di puncak Merapi hingga mempersiapkan Hunian Sementara
Dibutuhkan waktu yang cukup panjang untuk merehabilitasi dan merekosntruksi akibat dampak dari erupsi Gunung Merapi, sedangkan fase tanggap darurat pun kelihatan belum usai . Sebab meskipun kemungkinan ancaman bahaya awan panas sudah kecil sekali, namun masyarakat di sebagian wilayah Jateng dan DIY masih dihantui dengan ancaman lahar dingin yang setiap saat dapat terjadi, khususnya daerah di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu di puncak Merapi.
Dengan selesainya tugas Satgas TNI PB Merapi bukan berarti TNI tidak lagi terlibat dalam penanganan pasca bencana, karena tugas-tugas yang telah dilakukan oleh Satgas TNI selanjutnya diserahkan ke Komando Kewilayahan setempat dalam hal ini Komando Daerah Militer IV/Diponegoro, selanjutnya pasukan non organik Kodam IV/Dip yang tergabung dalam Satgas TNI PB Merapi kembali ke induk satuan masing-masing.
Berbagai tanggapan Positif berkaitan dengan kesiap siagaan dan kecekatan TNI dalam membantu menangani bencana merapi diantaranya adalah ketika Satgas TNI Penanggulangan Bencana Merapi (Satgas TNI PB Merapi) mendapatkan predikat excellent (sempurna) dalam tugas penanggulangan akibat bencana erupsi Gunung Merapi yang terjadi di sebagian wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Dr. Syamsul Maarif M.Si, ketika mengadakan pertemuan dengan anggota Satgas TNI PB Merapi di Posko Satgas TNI, Gedung PIP2B – Yogyakarta, sehubungan dengan telah berakhirnya masa tugas Satgas TNI dalam penanggulangan akibat bencana alam meletusnya Gunung Merapi, Kamis (Kompas 9/12-2010)
, Sementara Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso memuji kesigapan prajurit TNI AD yang lincah menangani pengungsi Merapi "Kami memuji kesigapan prajurit TNI AD. Mereka pintar menangani pengungsi sampai bikin dapur umum dan terlatih memasak," katanya.di Gedung DPR( Inilah.Com Selasa 2/11/2010).
. Politisi Kawakan dari Jawa Tengah ini bahkan mulai berpikir akan wacana melibatkan TNI dalam penanganan bencana. "Selama ini kita tidak melibatkan tentara terlatih. Selama ini terlupakan, kami berpikir ke depan perlu memberdayakan prajurit," katanya.
Langkah sigap TNI dalam OMSP di Merapi seharusnya mampu menginspirasi berbagai pihak agar belajar dari institusi militer tersebut, mengingat tingginya potensi bencana negara kita yang merupakan negara kepulauan tempat tiga lempeng besar dunia bertemu yaitu Lempeng Indo Australia, Lempeng Pasifik dan Lempeng Eurasia sehingga bencana seperti gempa bumi dan Tsunami serta ditambah dengan sejumlah gunung berapi aktif yang siap meletus kapan saja menjadikan kesiap siagaan terhadap bencana adalah wajib hukumnya.
.Pelajaran penting melihat kinerja TNI di Merapi adalah bahwa diakui atau tidak tentara masih merupakan elemen penting yang siap digerakkan setiap saat ketika bencana datang, kesigapan anggotanya ditambah hirarki dan struktur komando perintah yang solid, mobilisasi yang mantap adalah kelebihan yang termanfaatkan secara positif di Merapi.
Kedepan pemberdayaan pengerahan TNI ke lokasi bencana dapat dirumuskan dengan Rencana Operasi dan Prosedur Tetap yang jelas terkoordinasi dengan melibatkan semua elemen sehingga RO dan Protap itu bisa menjadi acuan di semua wilayah di Indonesia sebagai sebuah indikator darurat ketika bencana tejadi,
OMSP Merapi jika dipetik hikmahnya akan mengarahkan kita pada sebuah pemikiran bahwa sudah saatnya kewaspadaan akan suatu ketika terjadi bencana alam seluruh elemen bangsa akan turun tangan membantu , dibutuhkan kesiapan melalui pelatihan disemua tingkatan mulai dari nasional hingga desa, dan yang lebih penting diperlukan sebuah dasar hukum yang mengatur peran TNI dalam penanganan bencana termasuk mekanisme pengerahan pasukan ke wilayah bencana, alokasi dana yang mencukupi dan peralatan penunjang bagi pasukan yang lengkap, sebab agak janggal ketika pasukan datang ke lokasi bencana tidak dengan alat kerja yang mencukupi.
TNI sendiri nampaknya tak berpuas diri dengan berbagai pujian yang diarahkan ke pihaknya saat ikut menangani bencana Merapi mereka tetap mengadakan pelatihan terpusat di setiap Kodam , Lanal dan Lanud untuk mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan , berkahnya di tahun ini TNI dan Angkatan Bersenjata Filipina bekerjasama mengadakan pelatihan penanggulangan bencana di Manado Sulawesi Utara, kemudian TNI dan Singapore Armed Forces juga mengadakan pelatihan serupa yang diberi judul ASEAN Regional Forum Disaster Response Exercise (ARF DIREX) tanggal 14 s/d 19 Maret 2011 di Manado
Selain itu TNI dan militer Amerika Serikat yang dulu sempat mengembargo persenjataan pada Indonesia akibat isu pelanggaran HAM kini mengadakan pelatihan penanggulangan bencana dengan tajuk Disaster Response Exchange and Exercise (DREE) merupakan kegiatan bersama TNI dan USARPAC (United States Army Pacific), angkatan darat Pasifik Amerika Serikat di bawah koordinasi USIBDD (United States-Indonesia Bilateral Defense Dialogue) Amerika Serikat-Indonesia Dialog Pertahanan Bilateral.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kerjasama antara TNI dan USARPAC dalam menangani bencana disamping saling bertukar pengalaman dan pengetahuan, mengenai kerjasama antara sipil dan militer dalam penanganan bencana,
Itu artinya ada blessing in disguise atau berkah bahwa prestasi TNI dalam penangulangan bencana diakui dunia internasional. Hal tersebut merupakan sebuah kebanggaan tersendiri dan memberi harapan bahwa kedepan penanganan bencana atau misi kemanusiaan di jajaran TNI dan instansi terkait lainnya akan semakin baik, dari berbagai pengalaman dan latihan yang diikuti oleh militer kita akan membuka kesadaran tentang pentingnya koordinasi antara sipil dan militer ,ataupun antara militer dengan institusi terkait lainnya dalam misi kemanusiaan penanganan bencana alam.
Penulis: Aryo Widiyanto, Pemerhati militer, Wartawan di Majalah Gema Diponegoro TNI AD, Redaktur Pelaksana Di Majalah BMB Polres Kendal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar