Jumat, 05 Juni 2015

Mas Machrus dan Yamaha 75 Hijaunya



Mas Machrus dan Yamaha 75 Hijaunya.

Saya masih menonton RCTI jam 230 pagi ini dimana ada sebuah film drama Holywood yg ber setting tahun jadul bercerita tentang seorang penulis bernama Miss Skeeter berikut beberapa backgroundnya yang unik dan khas mengenai interaksi antara kulit putih dan kulit hitam seperti masa dimana pembantu rumah tangga di Amerika waktu itu masih (Maaf) menggunakan jasa wanita kulit hitam dan sebagainya.

                Namun sayang perhatian saya terpecah, saya sedang tak ingin menjadi seorang peresensi film yang merupakan pekerjaan favorit saya, saya sedang ingin mengenang masa kecil.

                Disebuah acara pernikahan yang saya hadiri dengan rekan sekerja, saya berjumpa dengan figur yang lama  sekali tak pernah saya temui, dia bernama mas Machrus, ada sebuah cerita yang akan saya kenang seumur hidup dimana ketika masih kelas satu Sekolah Dasar  aku hidup diasuh oleh Simbahku di desa Patebon Kendal, sementara aku Sekolah di SD Cepiring 5 sebelum pindah ke SD Cepiring 1, jadi fenomena laju dan pindah dari satu tempat ke tempat lain adalah makananku sejak kecil.

                Jarak antara Patebon ke Cepiring sedikit jauh saat itu, saya dan Mbah setiap pagi dan Sore naik angkutan yang lazim disebut Isuzu padahal bisa jadi merk mobil angkutannya Daihatsu atau yang lain, terlambat masuk sekolah bukan hal aneh , biasa saja, cuekin.

                Saat  terlambat sekolah itulah kadang Mbah menitipkan aku membonceng seorang lelaki muda berambut keriting mengendarai Yamaha V75 hijau yang suaranya khas, kadang aku mengira itu suara mesin penyemprot asap untuk mengusir nyamuk DBD, lelaki ramah itu bernama Mas Machrus putra dari Pak Gombol yang punya Kereta Kuda pengangkut kayu untuk warung sate mbahku yang ada di Jalan Sriagung.

                Atas jasa Mas Machrus inilah aku tidak terlambat, lama sekali waktu berjalan memori ditolong olehnya masih membekas, ya namanya anak kecil secuek cueknya kan kadang takut juga kalo dimarahin guru saat terlambat.

                Kami berjumpa lagi setelah sekian puluh tahun tak berjumpa, namun saya tetap mengingat kebaikan hati beliau yang rela memboncengkan saya menuju sekolahan untuk belajar, terimakasih Mas, semoga gusti Allah membalas semua kebaikan panjenengan kepada saya .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar