Sabtu, 18 Juni 2016

Sebuah Cerita Tentang Hujan



Sebuah Cerita Tentang Hujan

                Sejak belia  aku menyukai hujan, banyak cerita tentang rintik air yang diturunkan gusti Allah ini dalam hidupku, semasa masih tidur di loteng di usia SD, hal favoritku adalah mencium aroma hujan bercampur bau tanah basah yang menyeruak melalui kisi jendela usang di warung  , tidak siang tidak pagi tidak malam, aroma itu menyemburatkan romantisme masa kecil  di benakku.
                          
                Semilir angin yang dibawa sang hujan ketika akan turun ke bumi membawa ketenangan tersendiri, saat dulu kelas 6 saya , Nanang Sutanto, Arih Antoro, dan sejumlah rekan lain  yang ditugaskan belajar kelompok sering terpana dan kompak lupa belajar dan hanya bengong menatap rintik hujan yang menetes dan menjalar di tambang jemuran milik Ahmad Zaenuri sang juara kelas putra bapak yang punya usaha tambal ban di pantura Cepiring.

                Masa SMP dimana aku dirawat di RS Telogorejo Semarang, dari ketinggian lantai 2 rumah sakit itu, saya sering melamun menatap hujan sambil berdoa, “Semoga ya Allah, suatu masa aku akan kembali ke kota Semarang ini bukan sebagai orang yang sakit tapi sebagai mahasiswa yang kuliah, atau sebagai pelancong yang dolan dan jalan jalan menikmati indahnya kota ini” ucapku saat itu, lalu gusti Allah menjawab doa itu langsung lunas ketika saya sudah dewasa.

                Simbah yang mengasuh saya pernah bercerita, entah benar entah tidak, beliau menuturkan, saat hujan ada ribuan malaikat yang turun bersama rintik air yang  menyiram bumi,mohon jangan menyanggah ucapan mbah saya itu, beliau hanya orang sepuh yang menganut Islam abangan, berdoa pun beliau memakai bahasa Jawa, dimaafkanlah jika salah, tapi saya benar benar percaya ucapan itu, setiap hujan turun, saya langsung berdoa, semua apa yang ada dalam benak saya komunikasikan dengan Tuhan, saya beranggapan ucapan saya itu terbang ke haribaan Tuhan dibawa sayap sayap indah para malaikat, yaah itulah pikiran seseorang seperti saya yang bahkan mengaji dan membaca huruf Arab tidak lancar.

                Banyak kenangan tentang hujan, dan saya masih tetap melakukan ritual bengong sembari menyesap aroma hujan dan tanah basah ketika rintik itu membasahi bumi seperti saat ini ketika artikel ini ditulis untuk anda. Welcome home rain, I do  love you

Aryo Widiyanto, Journalist, Traveller , Backpacker, , Photographer, dan Abdi Negara, Blogger di aryowidiyanto.blogspot.com. Twitter di @aryowidi , Facebook :Aryo Widiyanto, email di : aryo_widi@yahoo.co.id. Address: Jl Sriagung 234 Cepiring Kendal Jawa Tengah Indonesia. Instagram :Aryo Widiyanto

1 komentar:

  1. saya sangat berterima kasih banyak MBAH RAWA GUMPALA atas bantuan pesugihan dana ghaib nya kini kehidupan kami sekeluarga sudah jauh lebih baik dari sebelumnya,ternyata apa yang tertulis didalam blok MBAH RAWA GUMPALA itu semuanya benar benar terbukti dan saya adalah salah satunya orang yang sudah membuktikannya sendiri,usaha yang dulunya bangkrut kini alhamdulillah sekaran sudah mulai bangkit lagi itu semua berkat bantuan beliau,saya tidak pernah menyangka kalau saya sudah bisa sesukses ini dan kami sekeluarga tidak akan pernah melupakan kebaikan MBAH,,bagi anda yang ingin dibantu sama MBAH RAWA GUMPALA silahkan hubungi MBAH di 085 316 106 111 insya allah beliau akan membantu anda dengan senang hati,pesugihan ini tanpa resiko apapun dan untuk lebih jelasnya buka saja blok mbah PESUGIHAN DANA GHAIB TANPA TUMBAL

    BalasHapus