Senin, 20 Mei 2013

Resensi Film Terbaik Dunia. Hachiko A Dog’s Story.



Resensi Film Terbaik Dunia.

Hachiko A Dog’s Story.




                Sebuah film produksi  Consolidated Pictures Group  yang niscaya akan membuat anda terkuras emosi dan airmata karena keharuan dari menit pertama  hingga terakhir yang terus dialirkan oleh Sutradara Lasse Hallstrom ,diproduseri oleh Richard Gere, Bill Johnson, Vicki Shigekuni Wong dan penulis naskah Stephen P. Lindsay tersebut, Diadaptasi dari kisah nyata  di Jepang tentang seekor anjing  bernama Hachiko yang sangat setia pada tuannya, Seorang Profesor tua tinggal sendirian di Kota Shibuya, bernama Profesor Hidesamuro Ueno, hingga masyarakat Jepang yang mengetahui membaca kisah Hachiko  merespon Hachiko untuk dijadikan teladan oleh masyarakt jepang tentang kesetiaanya. Pada tahun 1934, warga setempat ( disekitar tempat tinggal Hachiko) mendirikan patung Hachiko tepat ditempat ia menunggu tuannya di stasiun Shibuya sebagai sapresiasi dari masyarakat terhadap kesetiaan . Film ini dibuat dengan menggabungkan dua kultur budaya yaitu Amerika dan Jepang lengkap dengan segala filosofinya , musik klasik dengan denting piano dan terkadang dibeberapa bagian disisipkan sentuhan khas Jepang menambah haru biru nuansa keesedihan namun sarat oleh makna  dimana Hachikomengajarkan pada kita tentang arti sebenarnya dari kalimat Setia,tanpa pamrih apapun. 

                Adegan  dibuka dengan suasana malam stasiun Kereta Api dimana Profesor  Parker Wilson (Richard Gere) menemukan anjing kecil dari Ras Akita Jepang  yang tanpa sengaja terlepas dari Sangkar Rotan akibat kecerobohan Porter pengangkut barang dari pesawat yang mengirim anjing itu dari sebuah kuil di negeri matahari terbit.
                Anjing itu coba ditawarkan kepada  Charles Boilins sang penjaga stasiun, Myra penjual daging dan Jess penjual Hotdog  namun mereka semua menolak, bahkan tempat penampungan hewan terlantar juga menolak padahal anjing ras Akita itu sangat lucu, akhirnya Wilson menemui rekannya Ken Fujiyoshi (Cary Hiroyuki Tagawa) yang mengatakan bahwa Wilson dan Anjing itu “Berjodoh” bisa jadi bukan Wilson yang menemukan anjing itu tapi sang Puppy lah yang menemukan Wilson, dari Kalung yang dipakai anjing iitu bersimbolkan kalimat Hachi yang artinya “Delapan” angka keberuntungan bagi bangsa Jepang, Ken Fujiyoshi sendiri menolak untuk memelihara Hachiko nama baru dari anjing Akita itu, karena menurut Ken, takdir sudah mempersatukan Wilson dan Hachiko.
                Persoalan terus berlanjut,mengalir khas Amerika, Istri Wilson , Cate (Joan Allen)  awalnya menolak memelihara Hachiko, hingga anjing kecil itu terpaksa harus tinggal di gudang, akhirnya hati Cate luluh melihat sang suami dan putri semata wayang mereka Andy (Sarah Roemmer) mencintai Hachiko dengan tulus, kehidupan berjalan dengan bahagia saat Hachiko tumbuh besar dan gagah namun menggemaskan, namun Wilson sempat heran karena Hachiko tak mau diajak bermain lempar bola seperti anjing lainnya, Kembali Ken Fujiyoshi sang teman mengatakan bahwa satu keunikan ras Anjing Akita ini adalah dia bersifat melayani dan mengabdi  tak seperti ras lain seperti Springer Spaniel atau Doberman “ Ingat Wilson, ini adalah anjing Jepang bukan Amerika”tutur Ken seakan mengimgatkan kekhasan bangsanya sembari tersenyum.
                Suatu pagi ketika Wilson hendak berangkat bekerja  Hachiko menggali pagar rumah sehingga dia bisa lolos dan menyusul tuannya ke stasiun Bedridge , akibatnya Wilson terlambat bekerja  dan pulang untuk menutup lubang yang digali Hachiko, tak kurang akal sang anjing melompat pagar untuk mengantar tuannya bekerja, tak berhenti disana, sepulang kerja, Hachiko sudah menunggu di taman Stasiun , berulang setiap hari hingga bertahun tahun dan menjadi sebuah kebiasaan .
                Hingga suatu ketika saat Wilson akan berangkat kerja ada sebuah keanehan, Hachiko terus menggonggong dan memutar tubuh seperti meminta tuannya untuk kembali,  saat Wilson memaksa untuk berangkat Hachiko tak mengikuti ,ini tentu menjadi pertanyaan dan pembicaraan para sahabat  seperti Charles Boilins penjaga stasiun, Jess penjual Hotdog dan Myra pemilik toko daging, “Kemana Hachi??,Apa yang terjadi??” begitu ucap mereka,  belum habis mereka bicara tiba tiba Hachiko datang dengan membawa bola karet dan mengajak Wilson bermain Lempar bola..!! sebuah ketidak biasaan selama hidupnya, Wilson senang,” Ini yang pertama kali ,catat itu “ kata Wilson kepada Boilins sambil berjalan menuju kereta untuk berangkat mengajar.
                Rupanya perilaku aneh yang ditunjukkan Hachiko adalah sebuah pertanda, Sesampai di Kampus saat mengajar, Wilson mengalami serangan jantung dan meninggal , kesedihan mendalam dialami oleh seluruh keluarganya, perubahan drastis terjadi pada Hachiko, dia menjadi sering tepekur seperti melamun  merindukan tuannya.
                Andy putri Wilson mengajak Hachiko untuk tinggal bersama dia dan suaminya di kota lain, keadaan seperti normal kembali tapi suatu hari ketika suami Andy datang dengan membawa belanjaan untuk putri kecilnya, Hachiko lari keluar rumah , anjing itu menyusuri rel kereta api berhari hari untuk kembali ke rumah Wilson, tapi sayang, rumah Wilson sudah dijual dan hanya beberapa orang asing pengangkut barang  yang ditemui Hachiko disana, anjing bersedih hati itu kemudian menuju Stasiun dimana tuannya biasa berangkat dan pulang kerja, rupanya Hachiko tak menyadari jika sang tuan sudah meninggal dunia.
                Charles Boilins, Jess dan Myra sempat kaget dengan kehadiran Hachiko, seperti layaknya sahabat lama, mereka menyambut Hachi dengan hangat, menyapa dan memberi salam, kembali Hachiko duduk menanti tuannya di Taman depan stasiun tua itu.
                Andy , putri Wilson segera menyusul ke stasiun  Bedridge  dan membawa Hachiko kerumahnya, sampai suatu masa saat anjing itu ingin pergi Andy berkata “ Hachiko kamu tau apa yang harus kamu lakukan, tapi ingat, aku tetap sayang padamu” tutur Andy sambil membuka pintu, Hachiko menatap Andy sekejap seperti berterimakasih lalu berlari menuju Stasiun.
                Sesampai di stasiun itu cuaca musim dingin menyambutnya, dengan setia dia duduk menanti sang tuan ,posisi duduk Hachiko tak berubah, saat pagi dan malam dia menunggu mengamati satu persatu para penumpang yang turun dari kereta, tapi sang tuan tak kunjung datang, saat tubuh mulai lelah Hachiko merebahkan diri dibawah kereta api tak terpakai yang ada dipojok stasiun, saat perutnya mulai lapar, Hachiko menggaruk pintu toko daging milik Myra dan mendapatkan sesuap daging hangat, musim semi berganti menjadi musim gugur dan kemudian musim salju tiba, Hachiko tetap setia menunggu Wilson.
                Seorang wartawan muda yang bersimpati kemudian mengangkat kisah kesetiaan Hachiko ini di korannya, sebuah artikel besar berjudul  “ Anjing  setia menunggu tuannya yang telah tiada” menjadi headline, beritanya menyebar ke seluruh negeri, simpati berdatangan, mulai dari anak sekolah yang mengirim uang makan siang untuk anjing itu hingga  Ken Fujiyoshi sang sahabat dari Wilson juga datang menjenguk Hachiko, dia berkata “Hachiko, kau tahu tuanmu tak akan datang, tapi jika Hachiko ingin menunggu ,maka Hachiko harus menunggu” bisik Ken dalam bahasa Jepang sambil mengelus lembut bulu Hachiko .
                Cate istri Wilson yang telah pindah keluar kota pun datang menengok Hachiko, dia menangis melihat Hachiko tampak lelah dan lusuh “ Hachiko, kau sudah tua sekarang, tapi kau tetap menunggu Wilson”Isak tangis Cate pun pecah. “ Aku akan temani kau hari ini menunggu hingga malam tiba Hachiko” tutur Cate .
                Musim berubah, bulan berganti, sembilan tahun Hachiko setia menunggu tuannya, saat tubuhnya mulai menua, sakit dan lelah tak dirasakan, Hachiko hanya ingin menunggu tuannya, sampai akhirnya di musim dingin beersalju, saat Hachiko menutup mata dan menghembuskan nafas terakhirnya, Wilson sang Tuan menjemput Hachiko , sang Tuan turun dari kereta api diiringi seberkas sinar putih ,rintik salju  dan menyapa Hachiko dengan senyumnya “ Come here boy” kata Wilson, mereka berdua dilukiskan menuju alam keabadian dengan senyum dan kebahagiaan, penantian Hachiko berakhir bersama dengan berakhir hidupnya di dunia ini, farewell Hachiko.

 (Aryo Widiyanto, penulis Resensi Film yang bisa dihubungi di pin Blackberry 21DC007F,     email ; aryo_widi@yahoo.co.id       Twitter :  @aryowidi       Facebook : Aryo Widiyanto    dan tinggal dialamat surat : Jalan Sriagung 234 Cepiring Kendal Jawa Tengah Indonesia)
               
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar