Kamis, 07 Januari 2016

Belajar Dari Pira Sudham



Belajar Dari Pira Sudham.

                Awalnya dari namanya, saya sempat mengira Pira Sudham adalah penulis dari India, namun setelah membaca sebuah bukunya yang berjudul “Negeri Hujan” ternyata dia adalah berasal dari sebuah desa kecil di Esam Thailand Timur Laut, semasa kecil mebantu orangtuanya disawah dan menjaga kawanan kerbaunya hingga menjelang dewasa ia pergi ke Bangkok untuk menjadi seorang pembantu biarawan, untuk menanggung kebutuhan dan sekolahnya dia menjual cenderamata kepada turis di jalanan kota Bangkok, sampai dia memenangkan beasiswa dari pemerintah Selandia Baru untuk belajar bahasa Inggris dan Sastra di Auckland Univesity dan Victoria University.

                Di New Zealand dia menulis berbagai cerita pendek, namun obsesinya adalah meenulis tentang Thailand dari versi “Dalam” artinya dari orang Thailand sendiri, karena kebanyakan waktu itu mayoritas tulisan dan literatur tentang Thailand ditulis dari “Luar” artinya penulisnya orang luar negeri dan bersudut pandang dari visi luar.

                Ada sebuah pandangannya yang tertuang dalam kalimatnya yang menunjukkan dia ingin agar masyarakat Thailand menjadi warga yang mandiri, menghargai dan memanfaatkan alamnya yang subur “ Setiap saat pergi ke Napo dari Bangkok, saya memuat kendaraan Van saya dengan bibit tumbuh tumbuhan, Bibit Rempah, Benih Bambu dan Mangga, Bibit Pepaya dari kebun bibit desa, disetiap perjalanan saya membagikan semuanya kepada tetangga dan warga yang menerima dan langsung menanamnya di pekarangan atau tanah kosong, Sekarang Napo mempunyai lebih dari 300 belukar Bambu muda yang dalam jangka waktu dua atau tiga tahun mendatang menghasilkan rebung   untuk dimakan, dan bambu untuk bahan bangunan, di tahun 1993 pedesaan itu mempunyai lebih dari 800 pohon mangga, 500 pohon kelapa, 300 pohon Nangka menambah apa yang telah tumbuh disana” tuturnya.

                Uniknya dia tidak berpolitik dan tidak meniatkan langkahnya untuk memanfaatkan warga guna kepentingan politik “ Dan saya sudah mengatakan kepada kepala desa kami yang baik, saya tidak ingin membangun basis kekuatan untuk menjadi perdana menterri atau bahkan untuk menjadi kepala desa, saya hanya ingin menjadi penduduk desa biasa, hidup dalam keharmonisan bersama penduduk yang lain.

                Jika saja, Gubernur Jawa Tengah atau Bupati Kendal  mempunyai ide dan pemikiran yang mengadopsi langkah Pira Sudham ini dengan menanam sepanjang jalan pantura yang gersang dan tandus itu atau di bereum sungai, atau di seluruh tanah kosong di pinggir jalan dan tanah milik Pemda,  dengan pohon Mangga atau buah yang lain, bayangkan berapa keuntungan finansial untuk warga jika musim panen tiba, terlebih jika pohon buah itu di serahkan pengelolaan dan hasilnya untuk masyarakat sekitar dalam hal ini organisasi RT atau RW, maka Jawa Tengah akan menjadi surga bagi penikmat buah, sebagaimana Singapore yang memanfaatkan pinggiran jalannya untuk menanam Mangga, atau Thailand yang  getol membudayakan penanaman pohon buah guna menunjang pariwisata, apa salahnya menanam pohon buah untuk keuntungan masyarakat? Daripada menanam pohon kayu Industri seperti Sengon dan Mahoni yang gak jelas untuk siapa saat para pohon itu dipanen,  seperti saat semua pohon Mahoni dan Asam Jawa di medio 80-90 an dibabat habis dengan alasan pelebaran jalan Pantura, apa masyarakat disekitar pepohonan itu kecipratan duit atau minimal kayunya?, gimana pak Gubernur? Bu Bupati? Kapan nih kita mulai menanam pohon yang menguntungkan masyarakat,jangan hanya slogan mulu gembar gembor tanpa ada realita .
(Aryo Widiyanto, Journalist,   Traveller , Backpacker, , Photographer, dan Abdi Negara, Blogger di aryowidiyanto.blogspot.com. Twitter di @aryowidi , Facebook :Aryo Widiyanto, email di : aryo_widi@yahoo.co.id.  Address: Jl Sriagung 234 Cepiring Kendal Jawa Tengah Indonesia )


Tidak ada komentar:

Posting Komentar