Senin, 20 April 2015

Krisna Bird Farm , Pusat Perkutut Kelas Lomba



Krisna Bird Farm.



Pusat Penangkaran Perkutut  Kualitas Unggul.



            Perkutut jawa (Geopelia striata) adalah spesies burung dalam suku Columbidae, dari genus Geopelia.  Burung ini merupakan jenis burung pemakan biji-bijian dan serangga.

Perkutut jawa memiliki tubuh berukuran kecil (21 cm). Tubuh ramping, ekor panjang. Kepala abu-abu, leher dan bagian sisi bergaris halus, punggung coklat dengan tepi hitam. Bulu sisi terluar ekor kehitaman dengan ujung putih. Iris dan paruh abu-abu biru, kaki merah jambu tua. Hidup berpasangan atau kelompok kecil. Makan di permukaan tanah. Kadang berkumpul untuk minum di sumber air. Sarang berbentuk datar tipis dari ranting-ranting. Telur berwarna putih, jumlah 2 butir. Berbiak bulan Januari-September.





Suara perkutut jawa relatif kecil dan tipis jika di bandingkan dengan jenis perkutut thailand atau acapkali di sebut dengan perkutut bangkok

Menurut situs internet http://annasaranti.blogspot.com/2013/02/perkutut-dipercaya-membawa.html Burung Perkutut bisa dikatakan merupakan pemenuhan kepuasan atau kenikmatan pribadi. Suara anggungannya dapat memberikan suasana tenang, teduh, santai bahagia dan seolah-olah pemiliknya dapat berhubungan dengan alam semesta secara langsung. Lebih dari itu, perkutut tenyata memiliki keistimewaan luar biasa karena dianggap memiliki kekuatan gaib yang dapat mempengaruhi pemiliknya berdasarkan katuranggan atau ciri mathi, sehingga dipercaya memiliki pengaruh baik (membawa keberuntungan) atau buruk ( membawa sial) bagi pemilik atau si pemelihara.

                Untuk mengetahui baik atau tidaknya seekor perkutut, dapat di tilik berdasarkan katuranggan  (ciri fisik seperti bentuk tubuh, bulu, paruh, kaki ) dan ciri mathi (sifat, perilaku dan pada saat berbunyi ). Perkutu yang manggung menyongsong terbitnya matahari ( gedong mengo ), juga yang manggung menyertai terbenamnya matahari (gedong minep ) atau dari susunan bunyinya ( widana sreku/widah sana gasta gasti ), sangat baik dipelihara karena akan mendatangkan rezeki atau menaikkan derajat / pangkat.

              Hal ini juga berlaku untuk perkutut yang berbulu putih di tengah kepala ( satria kinayungan ), perkutut jambul (songgo ratu), bulu ekornya 15 lembar (pandawa mijil ), matanya bersinar kuning (mercu juwa). Sedangkan perkutut yang seluruh bulunya putih bersih atau hitam legam yang dianggap rajanya perkutut, kalau dipelihara akan memberukan keberuntungan.

Pertukut yang ekornya terdapat satu bulu putih (buntel mayit), berbulu semu merah (brama susur), berbulu kuning kemerahan (brama labuh geni), berbulu semu hitam (wisnu kucem), bulu pundak putih (candala cabda), manggung-nya tengah malam (durga duwuh) atau siang malam (durga ngerik), konon tidak baik dipelihara karena pengaruhnya buruk bagi si pemilik/ pemelihara.

Perkutut Katuranggan





Katuranggan berasal dari kata kautur (menyampaikan) dan angga (badan). Jadi katurangga adalah pengetahuan bentuk bentuk badan burung perkutut. Bagi penggemar burung perkutut tempo dulu, katuranggan sangat memegang peranan untama (selain bunyi suaranya) dalam memilih burung bakalan untuk dijadikan burung kesayangannya.

Biasanya, perkutut katuranggan dikaitkan dengan perkutut lokal yang diyakini mempunyai "kekuatan gaib" menurut kepercayaan orang-orang tempo dulu terutama masyarakat tradisi jawa dan bukan perkutut silang atau sering disebut dengan Perkutut Bangkok yang yang banyak dilihat dan dipelihara saat ini dimana diyakini sudah tidak lagi memiliki kekuatan gaib sesuai dengan pikiran masyarakat modern.

              Kebiasaan menikmati bunyi "anggungan" perkutut ini dimulai sejak jaman Majapahit dan memang burung yang satu ini pada waktu itu hanya dipelihara oleh kalangan ningrat kerajaan yang semakin dikembangkan pada saat kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dibawah Sri Sultan Hamengku Buwono VII pada tauhn 1877-1921.

Perkutut juga diyakini sebagai bilangan kelima dari kelengkapan seorang pria sejati yang sempurna dalam tradisi jawa yang berlatar kebudayaan keraton yaitu : Wisma (rumah), Garwa (istri), Curiga (keris), Turangga (kuda), dan Kukila (Perkutut).
Di Desa Damarsari Kecamatan Cepiring Kabupaten Kendal terdapat sebuah peternakan dan penangkaran Burung Perkutut  Lokal dan Bangkok milik Yanto (35)  warga Damarsari RT 02 RW 01 Cepiring yang menyediakan bibit hingga Perkutut siap manggung yang  telah menjuarai beberapa kejuaraan dengan andalannya seperti Perkutut bernama “Gemblong”   dan “ Tukul” yang telah menjuarai sejumlah kejuaraan seperti Bahurekso Cup, Batik Cup di Pekalongan, Juara II Liga Hanging Jateng di Batang, Juara 1 Lawang Sewu Cup di Pondok Daun Marina Semarang.
Menurut Yanto sang pemilik melalui Khamid Sembung mengatakan bahwa awalnya Krisna Bird Farm  adalah bertujuan untuk melestarikan Perkutut Jawa dan sebagian kecil mencari bibit unggul Perkutut Bangkok, pada perkembangannya peternakannya berkembang dan menetaskan sejumlah bibit unggul yang dilirik banyak kolektor,” Kami tak mematok harga tinggi, yang penting adalah persaudaraan, dan prinsipnya kami hanya menjual dengan sesuai kualitas perkutut” papar Khamid.
Seringnya mengikuti kejuaraan membuat Yanto dan Krisna Bird Farm dikenal oleh banyak penggemar perkutut dan kolektor di Jawa Tengah, kedepan rencananya Yanto akan mendatangkan bibit perkutut berkualitas untuk mendapatkan anakan atau Piyik yang siap untuk kontes dan lomba, “Bagi para mania Perkutut baik Perkutut Jawa atau Bangkok, silahkan datang ke Krisna Bird Farm, kami siap melayani dan menyediakan perkutut yang berkualitas baik bibit, untuk lomba atau indukan, kontak person KBF adalah di 081904958141 atau mas Khamid di 081325151345” tutur Khamid.

               


Tidak ada komentar:

Posting Komentar