Jumat, 11 September 2015

Sebuah Cerita Tentang Hujan.



Sebuah Cerita Tentang Hujan


                Sejak kecil  aku menyukai hujan, banyak cerita tentang rintik air yang diturunkan gusti Allah ini dalam hidupku, semasa masih tidur di loteng di usia SD, hal favoritku adalah mencium aroma hujan bercampur bau tanah basah yang menyeruak melalui kisi jendela usang di warung  , tidak siang tidak pagi tidak malam, aroma itu menyemburatkan romantisme childhood di benakku.

                Semilir angin yang dibawa sang hujan ketika akan turun ke bumi membawa ketenangan tersendiri, saat dulu kelas 6 kami yang ditugaskan belajar kelompok sering terpana dan kompak lupa belajar dan hanya bengong menatap rintik hujan yang menetes dan menjalar di tambang jemuran milik Ahmad Zaenuri sang juara kelas putra bapak yang punya usaha tambal ban di pantura Cepiring.

                Masa SMP dimana aku dirawat di RS Telogorejo Semarang, dari ketinggian lantai 2 rumah sakit itu, saya sering melamun menatap hujan sambil berdoa, “Semoga ya Allah, suatu masa aku akan kembali ke kota Semarang ini bukan sebagai orang yang sakit tapi sebagai mahasiswa yang kuliah, atau sebagai pelancong yang dolan dan jalan jalan menikmati indahnya kota ini” ucapku saat itu, lalu gusti Allah menjawab doa itu langsung lunas ketika saya sudah dewasa.

                Simbah yang mengasuh saya pernah bercerita, entah benar entah tidak, beliau menuturkan, saat hujan ada ribuan malaikat yang turun bersama rintik air yang  menyiram bumi,mohon jangan menyanggah ucapan mbah saya itu, beliau hanya orang sepuh yang menganut Islam abangan, berdoa pun beliau memakai bahasa Jawa, dimaafkanlah jika salah, tapi saya benar benar percaya ucapan itu, setiap hujan turun, saya langsung berdoa, semua apa yang ada dalam benak saya komunikasikan dengan Tuhan, saya beranggapan ucapan saya itu terbang ke haribaan Tuhan dibawa sayap sayap indah para malaikat, yaah itulah pikiran seseorang seperti saya yang bahkan mengaji dan membaca huruf Arab tidak lancar.

                Banyak kenangan tentang hujan, dan saya masih tetap melakukan ritual bengong sembari menyesap aroma hujan dan tanah basah ketika rintik itu membasahi bumi seperti saat ini ketika artikel ini ditulis untuk anda. Welcome home rain, we love you 

(Aryo Widiyanto, Journalist,   Traveller , Backpacker, Photographer, Blogger di aryowidiyanto.blogspot.com. Twitter di @aryowidi dan Abdi Negara, Facebook :Aryo Widiyanto)
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar